Dari Medali ke Meja Kantor: Perjalanan Realistis Atlet Disabilitas Surabaya

- Rabu, 03 Desember 2025 | 09:00 WIB
Dari Medali ke Meja Kantor: Perjalanan Realistis Atlet Disabilitas Surabaya

Dewangga Saputra, atau yang akrab disapa Angga, baru bergabung dengan PERSAS di tahun 2022. Tapi dalam waktu yang relatif singkat itu, pemuda 19 tahun ini sudah mencatatkan sederet prestasi. Tak cuma di sepak bola amputasi, Angga juga jadi salah satu atlet atletik disabilitas andalan Surabaya.

Piala dan medali yang berhasil dikumpulkannya sempat memicu mimpi untuk jadi atlet profesional. Impian itu wajar saja.

"Iya tadinya mau jadi atlet karena sudah banyak dapat medali (penghargaan) sebagai atlet sepak bola dan atletik," tutur Angga kepada Basra, Rabu (3/12).

Namun begitu, setelah hampir tiga tahun berkecimpung, pandangannya mulai berubah. Mimpi lamanya pelan-pelan tergantikan oleh keinginan baru: bekerja sebagai pegawai kantoran. Alasannya sederhana, tapi realistis. Penghasilan dari dunia atletik dirasanya belum bisa diandalkan untuk menghidupi diri.

"Saya dapat penghasilan sebagai atlet itu kalau pas ada event pertandingan saja. Nah eventnya ini tidak setiap bulan ada, malah setahun bisa hanya 2 kali saja. Setelah bertanding baru dapat uang. Untuk bulan-bulan lainnya sudah pasti tidak ada event otomatis juga tidak ada penghasilan," terangnya.

Secara rinci, Angga menyebutkan tarifnya. Tiap ikut pertandingan sepak bola, ia mendapat sekitar Rp 400.000. Sementara untuk event atletik, angkanya lebih menggoda, bisa mencapai Rp 1.600.000 sekali turun. Tapi lagi-lagi, itu hanya saat ada event. Di luar itu, kekosongan.

Maka, demi mendapatkan pemasukan yang tetap tiap bulannya, ia pun mengalihkan pandangan. Kuliahnya di jurusan Manajemen diharapkan bisa menjadi jembatan.

"Sekarang saya kuliah jurusan Manajemen, semoga nanti ini bisa jadi jalan saya menjadi karyawan atau pegawai kantoran," harap Angga.

Perjalanan Angga hingga ke titik ini tidaklah mudah. Pemuda berambut ikal itu adalah penyandang disabilitas daksa. Kaki kirinya diamputasi akibat sebuah peristiwa tawuran memilukan di tahun 2020.

Frustasi dan sedih tentu sempat menyelimuti. Tapi sekarang, ia sudah berdamai dengan takdir. Bahkan, ia melihat sisi lain dari musibah itu.

"Justru dengan saya kehilangan kaki bisa mengantar saya menjadi atlet bola dan atletik dengan banyak penghargaan yang membuat saya dapat beasiswa kuliah gratis. Yang penting kita harus tetap semangat apa pun yang terjadi, mengambil setiap hikmah dari apa yang kita alami," tandasnya dengan tegas.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar