Akibatnya, jutaan barel minyak terperangkap di kapal-kapal tanker yang penuh muatan di perairannya. Tak hanya itu, stok di fasilitas penyimpanan darat juga ikut membengkak.
Angkanya cukup dramatis. Ekspor negara anggota OPEC ini anjlok jadi sekitar 500.000 barel per hari pada Desember hanya separuh dari realisasi November. Sebagian besar pengapalan itu pun terjadi sebelum embargo benar-benar berlaku. Pasca-embargo, hanya kiriman dari Chevron sekitar 100.000 barel per hari yang masih bisa keluar, berkat izin khusus dari Washington.
Tekanan ini memaksa PDVSA bertindak. Perusahaan minyak nasional itu mulai memangkas produksi dengan meminta beberapa perusahaan patungannya untuk mengurangi operasi, bahkan menutup ladang atau kelompok sumur tertentu.
Jadi, apa dampaknya untuk pasar global? Peristiwa akhir pekan ini kemungkinan besar tidak akan mengubah banyak hal. Serangan AS tidak menyentuh infrastruktur minyak, dan ekonomi dunia tampaknya akan tetap stabil setidaknya untuk sementara.
Belum lagi soal Iran. Trump juga mengancam akan campur tangan menanggapi protes di negara produsen OPEC lainnya itu, yang semakin memanaskan ketegangan geopolitik. Kombinasi faktor-faktor inilah yang kemudian memunculkan prediksi bahwa harga minyak justru berpeluang naik.
Pada akhirnya, keputusan OPEC mungkin menjadi penyeimbang. Pada pertemuan Minggu, mereka sepakat mempertahankan produksi stabil untuk kuartal pertama. Mereka juga sudah menaikkan target produksi sekitar 2,9 juta barel per hari untuk periode April hingga Desember 2025 setara hampir 3% dari permintaan minyak dunia. Langkah ini jelas memberi ruang bernapas bagi pasar.
Artikel Terkait
ERAL dan Mitra Resmikan Perusahaan Patungan untuk Pasar Teknologi Display
Pemerintah Masih Kaji Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi di Tengah Gejolak Minyak Dunia
Menteri Keuangan Ubah Skema Pembiayaan Koperasi Desa, APBN Kini Tanggung Utang
Pemerintah Targetkan 400.000 Unit Bedah Rumah pada 2026