Kalau bicara soal energi terbarukan di pasar modal, nama PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) pasti tak asing. Emiten ini bergerak di bidang pembangkit listrik tenaga air, dan belakangan sahamnya cukup ramai diperbincangkan. Tapi, siapa sebenarnya yang memegang kendali perusahaan ini?
Menurut informasi terbaru dari perusahaan per 3 Januari 2026, ARKO saat ini mengoperasikan tiga pembangkit listrik. Ada Proyek Cikopo dengan kapasitas 7,4 MW, lalu Proyek Tomasa dan Proyek Yaentu yang masing-masing menghasilkan 10 MW. Mereka tak berhenti di situ. Dua proyek lagi masih dalam tahap pembangunan: Kukusan II (5,4 MW) dan Tomoni (10 MW). Bahkan, satu proyek berkapasitas lebih besar, Pongbembe 20 MW, masih dalam tahap perencanaan konstruksi.
Perjalanan bisnisnya sendiri dimulai sejak 2010. Namun, baru dua tahun kemudian, tepatnya 2012, konstruksi pertama dan perjanjian jual beli listriknya mulai dilakukan. Prinsip kerjanya mengandalkan aliran sungai di ketinggian alam. Caranya? Dengan membangun bendungan, bak penampung, dan saluran air untuk menggerakkan turbin. Di balik operasionalnya, ARKO didukung oleh 13 anak usaha yang fokus pada bisnis energi baru terbarukan, termasuk salah satunya yang menggarap tenaga surya.
Lalu, siapa pemegang saham utamanya?
ARKO baru melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2022. Kala itu, perusahaan melepas 579 juta saham dengan harga Rp300 per lembar. Hasilnya? Mereka berhasil mengumpulkan dana segar sekitar Rp173 miliar.
Artikel Terkait
DSSA Melonjak 170%, GEMS Anjlok: Kisah Dua Wajah Saham Sinar Mas di 2025
Geliat Pajak 2026: 8.160 Wajib Pajak Sudah Lapor di Tiga Hari Pertama
Harga Emas Antam Anjlok Rp16.000 di Awal Tahun
Empat Bulan Pasca-Kobaran, Pedagang Taman Puring Bertahan di Pinggir Jalan