Kalau bicara soal portofolio saham, nama Prajogo Pangestu pasti masuk daftar. Sepanjang 2025, setidaknya ada enam emiten yang sahamnya dipegang konglomerat pendiri Barito Group itu. Dan kinerjanya? Bervariasi, tapi ada satu yang benar-benar melesat.
Puncak performa itu diraih oleh PT Candra Daya Investasi Tbk, atau CDIA. Saham ini melantai di bursa pada 9 Juli 2025 dengan harga Rp190 per lembar. IPO-nya sendiri termasuk yang terbesar tahun lalu. Nah, sejak saat itu, pergerakannya cukup fantastis. Harganya pernah menyentuh puncak di Rp2.320, sebelum akhirnya stabil di kisaran Rp1.700-an. Tapi yang penting, hingga akhir Desember 2025, CDIA tercatat tumbuh gemilang sebesar 552,34 persen sejak IPO.
Bahkan, menurut catatan di pasar, pada 10 Oktober saham ini sempat meroket hingga 806,25 persen dari harga perdana. Dari penawaran umum itu, CDIA mengumpulkan dana segar sekitar Rp2,37 triliun. Dana tersebut salah satunya dialokasikan untuk menyuntik modal ke anak perusahaannya.
Di sisi lain, ada juga PT Petrosea Tbk (PTRO) yang tak kalah impresif. Sepanjang 2025, saham tambang batu bara ini naik 298 persen. Awal tahun harganya masih Rp2.745, tapi penutupan akhir tahun sudah di level Rp10.925. Saham ini mulai meninggalkan zona nyamannya di rentang Rp2.000-Rp3.000 sekitar pertengahan Juli, lalu terus merangkak naik. Kini, PTRO bahkan masuk dalam indeks MSCI Small Caps Indonesia.
“Pada perdagangan pertama 2026, saham ini sempat menyentuh Rp11.250,” begitu kira-kira kondisi terkininya. Dengan harga pasar saat ini, valuasi PTRO mencapai Rp113,47 triliun. Rasio Price to Book Value (PBV)-nya pun tinggi, di angka 27,80 kali.
Lalu, bagaimana dengan induk usahanya sendiri? PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga menunjukkan tren positif. Sahamnya tumbuh 247,87 persen sepanjang tahun lalu. Awal 2025, BRPT masih bertengger di Rp940. Baru pada pertengahan Mei, grafiknya mulai lepas landas.
Puncaknya terjadi pada 10 Oktober 2025, di harga Rp4.280. Itu artinya kenaikan sementara sekitar 355 persen. Pada perdagangan Jumat, 2 Januari 2026, BRPT diperdagangkan di sekitar Rp3.250. Valuasi pasarnya pun membengkak jadi Rp305,17 triliun.
Artikel Terkait
Operasi Tambang Vale Terhenti, Tunggu Izin ESDM untuk RKAB 2026
BUVA Meledak 2.718%, Saham Happy Hapsoro Borong Panggung Bursa 2025
Menkeu Purbaya Soroti Syarat Khusus untuk Calon Bos BEI Baru
Menteri Keuangan Purbaya Desak BNPB: Dana Rp 1,51 Triliun untuk Sumatera Jangan Sampai Hangus