Minat masyarakat Indonesia untuk bermain saham ternyata sedang melonjak. Hal ini terungkap dari pernyataan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam seremoni pembukaan perdagangan tahun 2026 di BEI, Jakarta. Yang menarik, proporsi investor ritel alias investor kecil diproyeksikan bakal menyentuh angka 50 persen tahun depan. Padahal, di tahun 2024 ini saja baru di angka 38 persen.
Namun begitu, lonjakan ini bukannya tanpa tantangan. Menurut Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, dominannya investor perorangan justru menuntut pengawasan yang lebih ketat. Fokus utama regulator kini adalah menjaga integritas pasar dan melindungi publik dari praktik curang.
"Proporsinya sangat besar dibanding negara-negara lain yang lebih mengandalkan investor institusional," ujar Mahendra.
"Artinya, semakin meningkat urgensi penguatan aspek perlindungan. Kita harus melindungi investor ritel dari praktik goreng-menggoreng saham, transaksi tidak wajar, atau manipulasi bentuk lainnya," tegasnya.
Di sisi lain, OJK juga memberikan catatan kinerja pasar modal sepanjang 2025. Secara umum, apresiasi diberikan. IHSG menutup tahun dengan level 8.646,94, sebuah kenaikan fantastis sebesar 22,13 persen. Pertumbuhan ini dinilai selaras dengan ketahanan ekonomi nasional.
Tapi jangan salah. Di balik angka gemilang itu, masih ada sejumlah pekerjaan rumah. Pertumbuhan indeks LQ45, misalnya, hanya berkisar 2,41 persen. Jauh tertinggal dari IHSG. Ini jadi catatan penting bahwa penguatan pasar belum sepenuhnya merata.
Dari sisi kontribusi terhadap perekonomian, pasar saham Indonesia memang mengalami lompatan signifikan. Kontribusinya terhadap PDB naik dari 56 persen di akhir 2024 menjadi 72 persen setahun kemudian. Lonjakan yang cukup mengesankan.
Meski demikian, Mahendra mengingatkan bahwa perbandingan dengan negara tetangga menunjukkan kita masih punya jalan panjang. "Angka itu masih di bawah Thailand yang 101 persen, Malaysia 97 persen, apalagi India yang mencapai 141 persen," katanya.
"Artinya, potensi pengembangan masih lebih besar lagi."
Dengan kondisi itu, komitmen OJK ke depan jelas: memastikan gelombang investor ritel yang masif ini diimbangi dengan ekosistem pasar yang sehat. Pengawasan akan diperketat. Tujuannya satu, menciptakan iklim investasi yang transparan dan adil bagi semua pihak, terutama untuk para pemula yang baru terjun.
Artikel Terkait
S&P DJI Lanjutkan Rebalancing Indeks di Indonesia, Pantau Perkembangan Regulasi BEI
S&P Dow Jones Tetap Lanjutkan Rebalancing Indeks di Indonesia Meski Kompetitor Tunda
S&P Tetap Lanjutkan Rebalance Indeks Indonesia di Tengah Keraguan Pesaing
S&P DJI Tegaskan Rebalance Indeks Indonesia Tetap Berjalan Maret 2026