Tapi jangan salah. Di balik angka gemilang itu, masih ada sejumlah pekerjaan rumah. Pertumbuhan indeks LQ45, misalnya, hanya berkisar 2,41 persen. Jauh tertinggal dari IHSG. Ini jadi catatan penting bahwa penguatan pasar belum sepenuhnya merata.
Dari sisi kontribusi terhadap perekonomian, pasar saham Indonesia memang mengalami lompatan signifikan. Kontribusinya terhadap PDB naik dari 56 persen di akhir 2024 menjadi 72 persen setahun kemudian. Lonjakan yang cukup mengesankan.
Meski demikian, Mahendra mengingatkan bahwa perbandingan dengan negara tetangga menunjukkan kita masih punya jalan panjang. "Angka itu masih di bawah Thailand yang 101 persen, Malaysia 97 persen, apalagi India yang mencapai 141 persen," katanya.
"Artinya, potensi pengembangan masih lebih besar lagi."
Dengan kondisi itu, komitmen OJK ke depan jelas: memastikan gelombang investor ritel yang masif ini diimbangi dengan ekosistem pasar yang sehat. Pengawasan akan diperketat. Tujuannya satu, menciptakan iklim investasi yang transparan dan adil bagi semua pihak, terutama untuk para pemula yang baru terjun.
Artikel Terkait
Menkeu Purbaya Soroti Syarat Khusus untuk Calon Bos BEI Baru
Menteri Keuangan Purbaya Desak BNPB: Dana Rp 1,51 Triliun untuk Sumatera Jangan Sampai Hangus
Gempa Finansial Rp 400 Triliun: OJK Turun Tangan Atasi Dampak Banjir Aceh-Sumut-Sumbar
Saham Unggulan Prajogo Pangestu: Satu Emiten Melonjak 552% Sepanjang 2025