Bulog Siap Salurkan 720 Ribu Ton Beras Bansos untuk 18 Juta Keluarga pada 2026

- Jumat, 02 Januari 2026 | 11:24 WIB
Bulog Siap Salurkan 720 Ribu Ton Beras Bansos untuk 18 Juta Keluarga pada 2026

Bulog Siapkan Penyaluran Bansos Beras untuk 18 Juta Keluarga di 2026

Perum Bulog memastikan program Bantuan Pangan (bansos) beras akan kembali digelar pada 2026. Bantuan ini ditargetkan untuk menjangkau 18 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

“Penyaluran bantuan pangan untuk 4 bulan tahun 2026 itu sekitar 720 ribu ton untuk 18 juta penerima bantuan,” jelas Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani.

Pernyataan itu dia sampaikan dalam Konferensi Pers Capaian Krusial Bulog 2025 dan Langkah Strategis 2026 di Jakarta, Jumat (2/1). Menurut Rizal, setiap keluarga akan menerima 10 kg beras per bulan, dan penyaluran akan berlangsung selama empat bulan.

Tak cuma bansos, peran Bulog tahun depan tetap krusial. Mereka juga akan menyalurkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sepanjang tahun, dengan total volume mencapai 1,5 juta ton. Ini berbeda dengan 2025 yang hanya berjalan 8 bulan.

Namun begitu, ada sedikit penyesuaian di musim panen. “Supaya tidak tumpah banyak di pasaran,” ujar Rizal. Pada bulan-bulan panen raya seperti Maret, April, dan Agustus, pasokan SPHP di daerah sentra padi seperti Jawa atau Sumatera akan dikurangi. Sementara untuk daerah non-sentra, penyaluran tetap berjalan normal.

Selain itu, Bulog juga menganggarkan 25 ribu ton beras untuk bantuan keadaan darurat. Angka ini merupakan hasil Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) di Kemenko Pangan.

Dari sisi penyerapan, targetnya cukup besar. Pada 2026 mendatang, Bulog berencana menyerap 4 juta ton beras dan 1 juta ton jagung. Soal pendanaan, Ahmad Rizal mengaku masih berkoordinasi dengan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.

Harapannya, Bulog bisa mendapat jatah dari APBN. “Mudah-mudahan kita dapat APBN ataupun dapat dana bantuan OIP yang bunganya hanya 2 persen,” katanya. Dengan pendanaan negara, Bulog tak perlu lagi bergantung pada pinjaman bank yang bunganya dinilai tinggi.

Rencana strategis lain adalah pembangunan 100 infrastruktur pasca panen, mencakup gudang dan Rice Milling Unit (RMU). Untuk program ini, pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp 5 triliun.

Tak ketinggalan, Bulog juga mendapat tugas baru: menyerap 35% dari MinyaKita atau minyak goreng rakyat berdasarkan kewajiban pasar domestik (DMO) nasional.

Kilas Balik Capaian 2025: Rekor Penyerapan Tertinggi

Membahas tahun sebelumnya, kinerja Bulog terbilang moncer. Sepanjang 2025, mereka berhasil menyerap gabah setara beras sebanyak 3,19 juta ton. Angka ini disebut-sebut sebagai yang tertinggi sejak Bulog berdiri pada 1968.

“Total pengadaan setara beras 3.191.969 ini total tertinggi selama berdirinya Bulog,” tutur Ahmad Rizal dengan bangga. Serapan itu berasal dari gabah kering panen (GKP), gabah kering giling (GKG), dan beras.

Untuk komoditas jagung, Bulog mencatat pengadaan 101.968 ton, yang juga dinyatakan sebagai rekor sejarah. Di sisi penyaluran, bansos beras tahun lalu mencapai 707.929 ton untuk periode Juni-Juli dan Oktober-November.

Rizal mengaku sebenarnya ingin menyalurkan lebih. Sayangnya, penugasan dari pemerintah hanya untuk empat bulan itu.

Untuk program SPHP beras, realisasinya 802.939 ton. Ada perubahan skema yang diterapkan. “Sekarang tidak diserahkan langsung ke grosir dari Bulog, tapi langsung ke para pengecer ritel,” jelasnya. Tujuannya jelas: mencegah praktik oplos dan memastikan harga jual sesuai HET Rp 15.700 per kg.

Bulog juga aktif menyalurkan SPHP jagung (51.211 ton) untuk meredam gejolak harga pakan ternak, serta menggelar Gerakan Pangan Murah di lebih dari 4.300 titik. Tak lupa, bantuan bencana sebanyak 14.227 ton didistribusikan ke sejumlah wilayah di Sumatera.

Yang menggembirakan, stok akhir tahun Bulog berada di posisi aman. Hingga akhir 2025, cadangan beras mereka mencapai 3,24 juta ton. “Ini stok tertinggi di awal tahun sepanjang Bulog berdiri,” pungkas Rizal.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar