Meski begitu, Anggun berusaha menenangkan. Menurutnya, keterlambatan ini takkan mengganggu operasional perusahaan dalam jangka panjang. Vale tetap berharap dokumen penting itu segera terbit dalam waktu dekat. Komitmen mereka jelas: menjaga stabilitas bisnis, taat hukum, dan tentu saja memberikan nilai tambah bagi semua pemangku kepentingan. Prinsip pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab dan berkelanjutan juga tetap dipegang teguh.
Yang menarik, kabar ini rupanya tidak menyurutkan semangat pasar. Sentimen terhadap saham INCO justru positif di awal tahun. Pada pembukaan perdagangan, sahamnya malah menguat 2,9 persen, mencapai level Rp5.325 per lembar.
Kinerja saham emiten nikel ini sebenarnya sudah cukup moncer sepanjang 2025, dengan kenaikan fantastis hampir 47 persen. Kenaikan itu didorong oleh sentimen harga nikel dunia yang meroket, terutama setelah muncul wacana Indonesia akan membatasi pasokan komoditas ini. Jadi, meski operasional tambangnya berhenti sementara, kepercayaan investor sepertinya belum goyah.
Artikel Terkait
Pizza Hut Indonesia Dirikan Anak Usaha Baru untuk Bisnis Roti dan Akomodasi
Menhub Prediksi Puncak Mudik Lebaran 2026 pada 18 Maret
Saham PP Properti Melonjak 10% Usai BEI Cabut Suspensi
BEI Bekukan Perdagangan Wanteg Sekuritas Terkait Kondisi Operasional