Meski begitu, Anggun berusaha menenangkan. Menurutnya, keterlambatan ini takkan mengganggu operasional perusahaan dalam jangka panjang. Vale tetap berharap dokumen penting itu segera terbit dalam waktu dekat. Komitmen mereka jelas: menjaga stabilitas bisnis, taat hukum, dan tentu saja memberikan nilai tambah bagi semua pemangku kepentingan. Prinsip pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab dan berkelanjutan juga tetap dipegang teguh.
Yang menarik, kabar ini rupanya tidak menyurutkan semangat pasar. Sentimen terhadap saham INCO justru positif di awal tahun. Pada pembukaan perdagangan, sahamnya malah menguat 2,9 persen, mencapai level Rp5.325 per lembar.
Kinerja saham emiten nikel ini sebenarnya sudah cukup moncer sepanjang 2025, dengan kenaikan fantastis hampir 47 persen. Kenaikan itu didorong oleh sentimen harga nikel dunia yang meroket, terutama setelah muncul wacana Indonesia akan membatasi pasokan komoditas ini. Jadi, meski operasional tambangnya berhenti sementara, kepercayaan investor sepertinya belum goyah.
Artikel Terkait
Menteri Keuangan Purbaya Desak BNPB: Dana Rp 1,51 Triliun untuk Sumatera Jangan Sampai Hangus
Gempa Finansial Rp 400 Triliun: OJK Turun Tangan Atasi Dampak Banjir Aceh-Sumut-Sumbar
Saham Unggulan Prajogo Pangestu: Satu Emiten Melonjak 552% Sepanjang 2025
OJK Soroti Kinerja LQ45 dan Dominasi Investor Ritel di Pasar Modal