Wall Street 2026: Antara Optimisme Laba dan Bayang-Bayang Valuasi yang Mentok

- Kamis, 01 Januari 2026 | 17:50 WIB
Wall Street 2026: Antara Optimisme Laba dan Bayang-Bayang Valuasi yang Mentok

Kesenjangan itu diprediksi akan menyempit signifikan di 2026. Magnificent Seven diproyeksikan tumbuh 23%, sementara 493 perusahaan lainnya di indeks bisa tumbuh sekitar 13%. Perbaikan inilah yang diharapkan bisa mengerek pasar secara keseluruhan.

"Perbaikan pertumbuhan laba pada banyak dari 493 saham lainnya... dan hal itu sudah mulai terlihat, akan membantu pasar saham mencatat imbal hasil dua digit pada tahun depan," ujar Kristina Hooper, Kepala Strategi Pasar Man Group.

Di sisi lain, ada tantangan besar: valuasi. Harga saham saat ini sudah di level tinggi, membuat ruang untuk apresiasi lebih lanjut menjadi terbatas. Di sinilah peran AI sebagai pendongkrak sentiment akan diuji. Antusiasme terhadap teknologi ini selama ini jadi penyokong valuasi, tapi belakangan muncul keraguan. Banyak yang mulai mempertanyakan, kapan imbal hasil dari belanja modal besar-besaran ini benar-benar terlihat?

Keraguan itu sudah menekan saham teknologi akhir-akhir ini, dan isu ini kemungkinan besar akan tetap jadi tema panas sepanjang 2026.

"Jika perusahaan mulai memangkas belanja modal... dan pasar kehilangan kepercayaan terhadap imbal hasil investasi AI tersebut, maka kemungkinan besar kita akan menghadapi tahun yang datar atau bahkan sedikit turun," jelas Jeff Buchbinder, Kepala Strategi Ekuitas LPL Financial.

Faktor penentu lain adalah kebijakan The Fed. Pasar saham butuh "soft landing" yang sempurna: perlambatan ekonomi yang cukup untuk meredam inflasi dan membuka jalan bagi pemotongan suku bunga, tapi tidak sampai memicu resesi. Kontrak berjangka saat ini menunjukkan investor mengharapkan setidaknya dua kali pemotongan suku bunga masing-masing 25 basis poin di 2026.

Dan ada satu variabel politik yang akan disoroti: siapa calon ketua The Fed pilihan Presiden Trump? Pengumuman di awal 2026 nanti akan jadi sinyal kuat tentang arah kebijakan moneter ke depan, sekaligus menguji ketahanan independensi bank sentral AS.

Jadi, tahun 2026 di Wall Street sepertinya akan diwarnai ketegangan antara harapan dan kenyataan. Antara optimisme laba yang meluas dan kekhawatiran valuasi yang sudah mentok. Semuanya tergantung pada bagaimana puzzle pertumbuhan ekonomi, kebijakan suku bunga, dan narasi AI ini tersusun. Satu hal yang pasti, perjalanannya tidak akan membosankan.


Halaman:

Komentar