Sentimen investor terhadap Pop Mart ternyata goyah juga. Saham perusahaan mainan koleksi itu terjun bebas pada Selasa lalu, catatan terburuk dalam tiga pekan terakhir. Pemicunya? Kabar yang beredar soal permintaan dari para reseller atau scalper untuk mainan andalannya, Labubu, yang mulai melemah.
Di pasar Hong Kong, saham Pop Mart International Group Ltd terpangkas tajam, sampai 6,2 persen. Jatuhnya cukup dalam hingga membuatnya masuk dalam daftar saham berkinerja paling suram di Indeks MSCI Asia Pasifik hari itu. Aksi jual ini, seperti dilaporkan Bloomberg, langsung menyusul beredarnya laporan bahwa sejumlah scalper memutuskan berhenti memburu stok Labubu.
Kenapa mereka berhenti? Tanda-tandanya sudah terlihat dari fluktuasi harga yang tak menentu di pasar sekunder China. Itu sinyal jelas bahwa minat, setidaknya dari kalangan investor kecil, sedang meredup.
Ini jadi pukulan telak buat kepercayaan. Pop Mart sebelumnya melesat tinggi berkat boneka-boneka trendinya. Tapi belakangan, keraguan mulai muncul. Data penjualan liburan di luar negeri yang kurang menggembirakan, ditambah tren penurunan harga, membuat banyak orang bertanya-tanya: seberapa lama lagi merek ini bisa bertahan?
Ahli strategi China Everbright Securities International Co Ltd, Kenny Ng, melihat hal ini dengan cukup jelas.
“Kekhawatiran bahwa popularitas produk Pop Mart mungkin mulai menurun sudah ada di benak investor. Jadi, laporan tentang penurunan permintaan seperti ini cenderung berdampak buruk pada harga saham,” ujarnya.
Sejak Agustus lalu, trennya memang cenderung turun. Saham Pop Mart sudah terdepresiasi sekitar 44 persen, menghapus nilai pasar lebih dari USD 25 miliar. Meski begitu, kalau dilihat dari awal tahun, posisinya masih lumayan naik lebih dari dua kali lipat. Bahkan valuasi perusahaannya masih dikatakan empat kali lebih besar dibanding pesaing lamanya, Sanrio Co.
Di lapangan, gejalanya konkret. Platform penjualan kembali Qiandao mencatat, harga rata-rata untuk set lengkap mini Labubu atau seri Big Into Energy sudah jatuh di bawah harga ritel resmi. Artinya, demam spekulasi yang dulu memanaskan pasar mulai kehilangan suhunya.
Menghadapi perlambatan ini, Pop Mart tak tinggal diam. Mereka kini bertaruh pada karakter kekayaan intelektual lainnya. Misi mereka jelas: meniru kesuksesan Labubu. Beberapa upaya sudah jalan, seperti lini Crybaby yang baru saja menggelar pameran di Shanghai. Ada juga boneka Twinkle Twinkle dan Hirono yang diandalkan.
Di sisi lain, menurut Jeff Zhang, analis Morningstar Inc., ada faktor lain yang mungkin ikut bermain. Beberapa investor kemungkinan sedang melakukan rotasi dari saham-saham konsumsi baru China untuk mengamankan keuntungan yang sudah mereka dapatkan. Ini terlihat dari pergerakan saham lain di hari yang sama. Produsen perhiasan Laopu Gold Co, contohnya, turun lebih dari 6 persen. Sementara Mixue Group, jaringan kedai teh bubble yang fenomenal, juga melemah hampir 4 persen.
Jadi, penurunan Pop Mart bukanlah cerita yang berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari dinamika pasar yang lebih luas, di mana euforia bisa berbalik arah dengan cepat, dan investor mulai lebih hati-hati memilih tempat bertaruh.
Artikel Terkait
Kemkomdigi Awasi Sidang Gugatan Rp3,3 Triliun Bali Towerindo ke Pemkab Badung
Harga CPO Catat Pelemahan Mingguan Kedua, Didorong Ekspor Malaysia Turun dan Kekhawatiran China
Saham BUMI Kuasai Pasar dengan Volume 50 Miliar Saham, Kontribusi ke IHSG Capai 17 Poin
Harga Minyak Menguat Tipis Didukung Data Inflasi AS yang Lebih Lunak