Harga Minyak Menguat Tipis Didukung Data Inflasi AS yang Lebih Lunak

- Sabtu, 14 Februari 2026 | 11:35 WIB
Harga Minyak Menguat Tipis Didukung Data Inflasi AS yang Lebih Lunak

MURIANETWORK.COM - Harga minyak dunia mencatat penguatan tipis pada penutupan perdagangan Jumat (14 Februari 2026), disokong oleh data inflasi Amerika Serikat yang lebih lunak dari perkiraan. Kenaikan kecil ini terjadi di tengah sentimen pasar yang beragam, antara harapan akan penurunan suku bunga dan kekhawatiran akan penambahan pasokan dari OPEC , serta ketegangan geopolitik yang terus mendominasi lanskap energi global.

Performa Minyak Akhir Pekan

Pada sesi Jumat, minyak mentah acuan Brent berhasil menguat 0,3 persen, mengakhiri perdagangan di level USD67,75 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik tipis 5 sen atau 0,08 persen menjadi USD62,89 per barel. Meski menguat di akhir pekan, kedua patokan ini tetap mencatatkan penurunan secara mingguan. Brent melemah sekitar 0,5 persen, sedangkan WTI turun lebih dalam, yakni 1 persen dalam lima hari perdagangan.

Inflasi AS dan Sinyal Kebijakan Moneter

Penguatan harga tersebut tidak lepas dari rilis data inflasi AS untuk Januari yang menunjukkan kenaikan lebih rendah dari proyeksi analis. Perlambatan ini terutama didorong oleh turunnya harga bensin dan moderasi inflasi sewa. Data ini dianggap dapat memberi ruang bagi bank sentral AS untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga di masa mendatang, sebuah langkah yang biasanya mendorong aktivitas ekonomi dan permintaan energi.

Dennis Kissler, Senior Vice President of Trading di BOK Financial, memberikan analisisnya. "Sepertinya inflasi mulai stabil. Jadi saya pikir itu akan menjadi kabar baik bagi suku bunga untuk kemungkinan terus bergerak sedikit lebih rendah. Dan ketika suku bunga mulai turun, itu positif bagi perekonomian," ungkapnya.

Namun, Kissler juga mengingatkan adanya faktor penekan dari sisi pasokan. "Hal negatifnya adalah OPEC mungkin akan menambah produksi sedikit lebih lanjut," tambahnya.

Dinamika Pasokan dan Geopolitik

Faktor pasokan memang menjadi perhatian utama. Di awal sesi Jumat, harga sempat tertekan oleh laporan yang menyebutkan OPEC cenderung akan melanjutkan kenaikan produksi minyak mulai April, menyongsong puncak permintaan musim panas. Dari dalam negeri AS sendiri, data Baker Hughes menunjukkan jumlah rig pengeboran minyak turun tiga unit menjadi 409, mengisyaratkan perlambatan aktivitas eksplorasi.

Di luar faktor fundamental, ketegangan geopolitik terus menjadi premi tersendiri dalam harga minyak. Awal pekan, harga sempat terdongkrak oleh kekhawatiran eskalasi konflik AS-Iran. Sentimen itu kemudian mereda setelah pernyataan dari Presiden AS Donald Trump mengenai kemungkinan kesepakatan dengan Tehran. Namun, langkah Pentagon yang memindahkan kapal induk ke Timur Tengah kembali mengingatkan pasar pada kerawanan kawasan produsen energi utama tersebut.

Selain Timur Tengah, perkembangan dari Rusia dan Venezuela juga diamati. Rusia menyatakan putaran perundingan damai terkait Ukraina akan digelar pekan depan. Sementara itu, AS melonggarkan sebagian sanksi di sektor energi Venezuela, membuka peluang bagi perusahaan global untuk kembali beroperasi dan berinvestasi di negara anggota OPEC itu.

Prospek dan Sentimen Pasar

Menurut Dennis Kissler, negosiasi dengan Iran dan Rusia akan menjadi penggerak pasar dalam waktu dekat. Ia memperkirakan, pasokan minyak global jangka pendek masih melimpah dan kontrak berjangka minyak saat ini kemungkinan telah memasukkan premi geopolitik sekitar USD5 hingga USD7 per barel.

Di sisi lain, data dari regulator berjangka komoditas AS (CFTC) menunjukkan peningkatan posisi net long oleh manajer investasi pada minyak mentah AS dalam pekan yang berakhir 10 Februari. Ini mengindikasikan bahwa meski fluktuatif, masih ada keyakinan di kalangan pelaku pasar terhadap tren harga minyak ke depan, di tengah ramainya berita yang saling tarik-menarik antara optimisme ekonomi dan ketidakpastian geopolitik.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar