Tahun 2025 belum usai, tapi Bea Cukai sudah menunjukkan sikap tegas. Tak tanggung-tanggung, institusi ini memproses hukuman terhadap 33 pegawainya. Kasusnya beragam, mulai dari penipuan hingga pelanggaran disiplin yang dianggap berat. Langkah ini bukan tanpa alasan. Mereka bilang, ini bagian dari upaya serius membenahi diri dan menguatkan integritas dari dalam.
Nirwala Dwi Heryanto, selaku Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa Bea Cukai, menegaskan hal itu. Menurutnya, menindak pegawai bermasalah adalah komitmen organisasi. Tujuannya jelas: menjaga profesionalisme dan memastikan fungsi pengawasan serta pelayanan bisa berjalan optimal.
“Kami berkomitmen untuk menindaklanjuti secara tegas setiap pelanggaran disiplin, sebagai bagian dari penguatan kualitas dan integritas SDM Bea Cukai,” ungkap Nirwala dalam sebuah Media Gathering, Selasa (30/12).
Sebenarnya, langkah serupa sudah dilakukan setahun sebelumnya. Sepanjang 2024, tercatat 27 pegawai harus berhenti karena kasus yang mirip. Nah, di 2025 ini angkanya naik jadi 33 orang. Peningkatan ini bisa dilihat sebagai sinyal bahwa pengawasan internal semakin ketat.
Di sisi lain, ada ancaman dari atas. Presiden dan Menteri Keuangan sempat mengancam akan membekukan institusi ini. Menanggapi hal itu, Nirwala menyebut Bea Cukai sudah melakukan pembenahan menyeluruh. Upayanya mencakup banyak hal, mulai dari membangun kultur organisasi yang lebih baik, meningkatkan kinerja, hingga memperkuat layanan dan fungsi pengawasan terutama di titik-titik vital seperti pelabuhan dan bandara.
“Di sisi pelayanan, Bea Cukai terus mendorong peningkatan kualitas layanan kepada masyarakat, serta menjadikan setiap masukan publik sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan yang berkelanjutan,” kata dia.
Soal pengawasan, teknologi jadi andalan. Mereka meningkatkan pemanfaatan sistem informasi dan memperkuat pengawasan di kawasan pelabuhan. Salah satu fokus utama adalah memberantas praktik under invoicing, alias pengurangan nilai faktur. Caranya? Dengan mengembangkan sistem terintegrasi yang dibantu kecerdasan buatan. Penindakannya pun diklaim dilakukan secara terukur dan konsisten, semua untuk mengamankan uang negara dan menciptakan iklim usaha yang sehat.
Tak hanya sistem, sumber daya manusianya juga terus ditingkatkan kualitasnya. Begitu pula dengan sarana dan prasarana pendukung. Semua digarap dalam setahun terakhir.
“Ke depan, pada tahun 2026, Bea Cukai akan melanjutkan agenda perbaikan ini secara konsisten melalui penguatan sistem berbasis teknologi, peningkatan kompetensi pegawai, serta optimalisasi pengawasan dan pelayanan, sebagai bagian dari komitmen reformasi berkelanjutan di lingkungan Bea Cukai,” tutur Nirwala memaparkan rencana jangka panjang.
Memasuki akhir tahun, tekanan makin terasa. Bea Cukai harus mengamankan target penerimaan APBN yang mencapai Rp 301,6 triliun. Strateginya berlapis, mulai dari program bersama dengan instansi lain hingga penindakan terpadu di semua wilayah kerjanya.
Dan tahun depan, targetnya lebih tinggi lagi: Rp 336 triliun. Angka besar ini juga mencakup rencana pengenaan bea keluar untuk komoditas seperti emas dan batu bara. Hal ini tentu menuntut kesiapan ekstra, mulai dari kebijakan, pengawasan, sampai kualitas aparaturnya.
Lalu, bagaimana kinerja mereka sejauh ini? Ternyata cukup terjaga. Hingga November 2025, penerimaan negara yang berhasil dihimpun mencapai Rp 269,4 triliun. Angka ini tumbuh 4,5 persen dari tahun sebelumnya dan sudah merealisasi 89,3 persen dari target APBN. Pencapaian ini ditopang oleh beberapa sumber. Bea masuk menyumbang Rp 44,9 triliun, sementara bea keluar ada di angka Rp 26,3 triliun didorong kenaikan harga CPO global. Sektor cukai masih menjadi andalan terbesar, dengan kontribusi mencapai Rp 198,2 triliun.
“Capaian ini menunjukkan ketahanan penerimaan di tengah dinamika ekonomi dan industri,” ujar Nirwala.
Di akhir penjelasannya, dia kembali menegaskan komitmen. Bea Cukai akan berusaha menjaga konsistensi kinerja di semua lini, baik pengawasan, penindakan, maupun penerimaan.
“Kami berkomitmen untuk terus melindungi masyarakat, menjaga penerimaan negara, dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui Bea Cukai yang profesional dan berintegritas,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Kemkomdigi Awasi Sidang Gugatan Rp3,3 Triliun Bali Towerindo ke Pemkab Badung
Harga CPO Catat Pelemahan Mingguan Kedua, Didorong Ekspor Malaysia Turun dan Kekhawatiran China
Saham BUMI Kuasai Pasar dengan Volume 50 Miliar Saham, Kontribusi ke IHSG Capai 17 Poin
Harga Minyak Menguat Tipis Didukung Data Inflasi AS yang Lebih Lunak