Simon Tahamata: Mental Kunci Hadapi Grup Neraka Piala Asia U-17

- Sabtu, 14 Februari 2026 | 14:50 WIB
Simon Tahamata: Mental Kunci Hadapi Grup Neraka Piala Asia U-17

JAKARTA – Hasil undian Piala Asia U-17 2026 sudah keluar, dan untuk Timnas Indonesia, hasilnya tidak main-main. Garuda Muda ditempatkan di Grup B, sebuah grup yang langsung dijuluki "neraka" oleh banyak pengamat. Di dalamnya, ada Jepang, China, dan Qatar. Tantangan yang berat, tapi Simon Tahamata, sang Kepala Pemandu Bakat, punya pesan sederhana: tetap percaya diri.

Memang, alasan julukan itu sangat kuat. Lihat saja rekam jejak ketiga lawan itu. Jepang, juara empat kali. China, dua kali menang. Sementara Qatar pernah meraih titel pada 1990. Mereka semua raksasa di level Asia. Turnamen yang akan digelar di Arab Saudi mulai 5 Mei 2026 itu dipastikan akan panas sejak laga pertama.

Di sisi lain, Indonesia sendiri punya sejarah yang bisa jadi cambuk. Pencapaian terbaik mereka adalah peringkat keempat, yang juga terjadi pada 1990. Itu jadi tolok ukur sekaligus pengingat bahwa prestasi itu mungkin terulang.

Simon Tahamata tak menampik kekuatan lawan. Namun begitu, dia bersikeras bahwa rasa rendah diri tak boleh ada.

"Jepang, Cina, Qatar, kuat. Kita masih punya waktu untuk berlatih keras, bermain keras, mentalitas musti lebih baik. Kita tahu tiga negara itu (kuat) berbahaya, tapi bola itu bundar,"

tegas Simon di Jakarta, Sabtu (14/2/2026).

Kunci Utama: Mental dan Kepercayaan Diri

Bagi Simon, kunci menghadapi grup seberat ini terletak pada mental dan kerja keras. Dia mendorong para pemain untuk benar-benar yakin pada kemampuan mereka sendiri.

"Kita tidak bisa bilang kalau kita kalah dari mereka, kita harus setuju kita bisa menang lawan mereka,"

sambungnya.

Rasa takut, menurutnya, cuma akan jadi penghambat. Kepercayaan diri itu harus dibangun dari sekarang, sejak masa persiapan. Bahkan, dia bicara blak-blakan soal pentingnya mental bertanding.

"Kalau tidak ada (mental), saya bilang pulang saja, tidak usah bertanding. Kalau orang-orang semua bilang susah, lalu apa? Itu tidak gampang,"

tutur Simon.

Dia juga mengingatkan kita semua, para penonton dan media, untuk tidak terlalu keras. Ingat, usia para pemain ini masih sangat belia.

"Kalau anak-anak bermain bola itu tidak gampang, kita harus percaya pada anak-anak itu bermain bola. Percaya mereka. Jangan terlalu kritis, anak-anak ini baru 16 tahun,"

pungkasnya.

Menjelang turnamen besar itu, tim juga akan mengalami masa transisi. Kurniawan Dwi Yulianto akan mengambil alih kepelatihan, menggantikan Nova Arianto yang naik kelas ke tim U-20.

Jadi, fokusnya sekarang jelas: meningkatkan kualitas teknik, fisik, dan tentu saja mental bertanding. Perjalanan di grup neraka nanti akan sangat berat. Tapi seperti kata Simon, bola itu bundar. Semua masih mungkin.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar