Di sisi lain, kabar dari sektor ekspor justru memberi angin segar. Tanda-tanda stabilisasi mulai terlihat. Data dari surveyor kargo mencatat, pengapalan pada periode 1-25 Desember naik sekitar 1,6 hingga 3 persen jika dibandingkan dengan bulan November. Artinya, ada peningkatan, meski mungkin tak terlalu spektakuler.
Minat beli dari India, importir terbesar dunia, juga turut menguat. Pada November lalu, pembelian minyak sawit mereka naik 5 persen. Harga yang lebih menarik jadi pemicunya.
Sementara itu, di Indonesia produsen CPO terbesar di dunia ada perkembangan positif terkait isu perdagangan. Mengutip Trading Economics, persoalan tarif dengan Amerika Serikat kabarnya sudah menemui titik terang. Kesepakatan diperkirakan bakal diteken akhir Januari nanti dan berpotensi memberi pengecualian tarif untuk sejumlah produk, termasuk tentu saja minyak sawit. Ini berita bagus.
Tapi, jangan senang dulu. Penguatan nilai tukar ringgit Malaysia tetap jadi ganjalan. Daya saing ekspor bisa terus tertekan karenanya.
Kalau ditarik ke belakang, secara keseluruhan kontrak minyak sawit tahun ini diperkirakan masih akan ditutup dengan pelemahan sekitar 8,5 persen. Ini berbalik 180 derajat dari kinerja kuat tahun lalu. Pasokan yang melimpah dan kekhawatiran atas permintaan global yang melunak jadi biang keroknya.
Pasar sendiri rencananya tetap buka besok, Rabu tanggal 31 Desember 2025. Jadi, masih ada satu hari lagi untuk mengamati pergerakannya sebelum tahun benar-benar berganti.
Artikel Terkait
Bulog Pastikan Penyaluran 828 Ribu Ton Beras SPHP Berjalan Sepanjang 2026
DPR Dorong Elektrifikasi Transportasi dan Rumah Tangga untuk Tekan Ketergantungan Impor Energi
Pemerintah Turki Naikkan Tarif Listrik dan Gas Rata-Rata 25% Mulai 2026
Harga Emas Antam Stabil di Rp 2,857 Juta per Gram, PPN Dihapus