Delapan Blok Migas Dibuka, Pemerintah Genjot Daya Tarik Investor dengan Aturan Lebih Fleksibel

- Senin, 22 Desember 2025 | 13:18 WIB
Delapan Blok Migas Dibuka, Pemerintah Genjot Daya Tarik Investor dengan Aturan Lebih Fleksibel

Kabar baru datang dari Kementerian ESDM. Mereka baru saja membuka penawaran untuk delapan blok migas tahap III tahun 2025. Wilayahnya cukup luas, membentang dari Banten di barat hingga ke tanah Papua di timur.

Menariknya, pemerintah mengklaim sudah melakukan sejumlah perbaikan aturan. Tujuannya jelas: menarik lebih banyak investor. Laode Sulaeman, Dirjen Migas, menjelaskan bahwa ketentuan kontrak dan bagi hasil produksi kini lebih fleksibel. Bagian kontraktor bisa mencapai 50%, disesuaikan dengan profil risiko bloknya. Untuk Domestic Market Obligation (DMO), kontraktor bahkan bisa mendapatkan 100% harga minyak internasional (ICP) tanpa batasan pemulihan biaya.

“Kami telah mempermudah akses data dan menghapus persyaratan pelepasan wajib pada tahap awal,” ujar Laode.

Dia menambahkan, perbaikan ini diharapkan bisa menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif. Intinya, pemerintah ingin ada distribusi risiko dan imbalan yang lebih adil antara mereka dan para kontraktor.

Di sisi lain, kontraktor juga diberi kebebasan memilih skema. Mereka bisa pakai skema pemulihan biaya ("cost recovery") yang konvensional, atau beralih ke skema pembagian kotor ("gross split"). Pilihan ini bisa diterapkan per blok, memberikan keluwesan tersendiri.

Lalu, blok apa saja yang ditawarkan? Berikut rinciannya.

Pertama ada WK Tapah, di Sumatera Selatan dan Jambi. Luasnya sekitar 800 kilometer persegi. Potensinya cukup besar, diperkirakan ada 439 juta barel minyak dan 23 miliar kaki kubik gas yang masih tersimpan di bawah tanah. Untuk blok ini, komitmen minimalnya cukup detail, mencakup kegiatan seismik dan pengeboran eksplorasi.

Berikutnya WK Nawasena di Jawa Timur, mencakup darat dan laut. Luasnya jauh lebih besar, lebih dari 7.000 kilometer persegi, dengan potensi gas sekitar 1,3 triliun kaki kubik. Blok ini akan dilelang secara langsung dengan skema "cost recovery".

Masih dengan skema serupa, ada WK Mabelo di Sulawesi Tenggara. Potensi minyaknya sekitar 282 juta barel. Kemudian WK Arwana III di lepas pantai Laut Natuna, yang menawarkan pilihan skema "cost recovery" atau "gross split".

Bergeser ke Sumatera, WK Tuah Tanah di Sumatera Utara dan Riau punya potensi 52 juta barel minyak. Sementara WK Rangkas, yang meliputi Banten dan Jawa Barat, disebut-sebut menyimpan potensi setara 874 juta barel minyak. Keduanya bisa menggunakan skema "cost recovery" atau "gross split".

Yang paling menarik mungkin dua blok di Papua: Akimeugah I dan II. Luasnya sangat besar, masing-masing sekitar 10.700 dan 12.900 kilometer persegi. Potensinya pun fantastis, diperkirakan mencapai 15 miliar barel ekuivalen minyak per blok. Komitmen minimalnya relatif fleksibel, bisa berupa survei seismik atau langsung pengeboran eksplorasi.

Untuk jadwal, lelang dengan mekanisme penawaran langsung ditutup lebih dulu, yakni 5 Februari 2026. Sedangkan lelang reguler punya waktu lebih panjang, batas akhirnya 21 April 2026.

Lelang WK Gagah Sudah Ada Pemenangnya

Selain pengumuman penawaran baru, Laode juga mengumumkan pemenang untuk satu blok lain. WK Gagah di Sumatera Selatan, yang dilelang via penawaran langsung, dimenangkan oleh PT Proteknik Utama.

Perusahaan ini menawarkan bonus tanda tangan 300 ribu dolar AS. Komitmen eksplorasi untuk tiga tahun pertama mereka tetapkan sebesar 4,25 juta dolar AS.

“Pemerintah berharap pemenang dapat berkontribusi terhadap keamanan energi Indonesia masa depan,” kata Laode.

Dia juga mengingatkan agar pemenang lelang segera merealisasikan komitmennya dan menyelesaikan kontrak kerja sama dengan baik. Langkah ini dianggap penting untuk menjaga momentum eksplorasi dan mendukung target produksi energi nasional.

Komentar