Sebaliknya, ceritanya akan lain sama sekali jika harga jeblos di bawah USD55,87. Kalau itu terjadi, tekanan jual diprediksi bakal kembali menguasai panggung. Pasar akan fokus lagi ke level USD54,89, bahkan berpotensi melanjutkan penurunannya menuju support jangka panjang di angka USD54,71.
Dari sisi fundamental, situasinya memang rumit. Sentimen pasar saat ini banyak ditopang atau lebih tepatnya dihantui oleh risiko geopolitik yang makin panas. Ambil contoh upaya Amerika Serikat yang ingin membatasi ekspor minyak Venezuela. Langkah itu berisiko mengacaukan pasokan global.
Belum lagi soal Rusia. Beberapa kapal tanker yang dikaitkan dengan negara itu dilaporkan berhenti atau mengubah rute pelayarannya. Ketegangan makin memuncak ketika Ukraina melancarkan serangan drone ke kapal tanker 'armada bayangan' Rusia di Laut Mediterania. Ini adalah serangan udara pertama mereka.
Di sisi lain, Uni Eropa justru menggelontorkan dana segar. Paket pinjaman senilai 90 miliar Euro disetujui untuk mendukung pertahanan Ukraina. Sayangnya, alih-alih mereda, prospek perdamaian antara Rusia dan Ukraina justru tampak semakin suram.
Ada juga faktor pendukung lain yang datang dari dalam negeri AS sendiri. Jumlah rig pengeboran aktif di Cekungan Permian turun tiga unit, menjadi hanya 246 rig. Angka ini adalah yang terendah sejak Agustus 2021. Penurunan aktivitas pengeboran ini bikin khawatir soal kecukupan pasokan untuk jangka menengah, dan akhirnya menambah premi risiko pada harga minyak.
Jadi, dengan campur aduk faktor teknikal dan gejolak geopolitik ini, bagaimana prospek ke depannya? Hyerczyk menilai pandangan jangka pendek untuk harga minyak kini cenderung moderat bullish. Selama harga WTI bisa bertahan di atas USD55,87, peluang untuk menguat masih ada. Tapi tentu saja, semua pihak harus tetap waspada. Volatilitas tinggi masih sangat mungkin terjadi, mengingat dinamika global yang serba tak pasti.
Artikel Terkait
Laba Bersih ABM Investama Anjlok 51% di Tengah Tekanan Harga Batu Bara
Pendapatan Trimegah Sekuritas Melonjak 85% Jadi Rp1,68 Triliun pada 2025
BREN Pacu Kapasitas Panas Bumi, Targetkan Lampaui 1 GW pada 2026
CP Prima Catat Laba Bersih Rp424 Miliar, Naik 32% pada 2025