Seragam Safety hingga Suara Nelayan: Kisah Pertamina Redam Konflik di Lapangan

- Sabtu, 20 Desember 2025 | 11:12 WIB
Seragam Safety hingga Suara Nelayan: Kisah Pertamina Redam Konflik di Lapangan

Bagi PT Pertamina Hulu Energi, menjalankan operasi migas di berbagai penjuru negeri bukan cuma soal teknologi. Tantangan sosial di lapangan kerap kali lebih kompleks. Itu sebabnya, perusahaan ini mengandalkan pendekatan yang jauh lebih personal, berangkat dari data dan kearifan lokal, untuk meredam potensi konflik dengan warga sekitar.

Fitri Erika, Senior Manager External Communication and Stakeholder Relations PHE, mengakui hal itu. Menurutnya, kesalahpahaman masyarakat terhadap aktivitas industri hulu migas adalah hal yang biasa terjadi. Kekhawatiran itu nyata.

"Nah, bagaimana program-program ini mulai dirancang, tentu kita berbasiskan kepada data ataupun social mapping, kemudian dilanjutkan dengan melakukan diskusi ataupun FGD dengan pemangku kepentingan," ujar Erika dalam paparannya pada acara Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Jakarta, Sabtu (20/12).

Ia memberi contoh yang cukup gamblang. Bayangkan saja, saat tim operasional dengan seragam safety lengkap tiba-tiba masuk ke sebuah kawasan hutan atau area tangkapan nelayan. Penampilan mereka sendiri sudah bisa memicu prasangka.

"Contoh misalnya ketika kita, teman-teman pakai baju coverall Pertamina masuk ke hutan, itu masyarakat beranggapan 'Wah pasti pohon mau ditebang gitu, wah pasti akan ada sumur di sini.' Nah, itu memang ada saja awal-awal untuk melihat secara fisik kita aja mereka sudah berbeda," jelasnya.

Tak bisa dimungkiri, stigma semacam itu jadi tantangan tersendiri saat membangun dialog. Di sisi lain, hal serupa juga terjadi di lepas pantai. Kegiatan survei seismik yang melibatkan kapal besar kerap bersinggungan dengan jalur nelayan, yang berpotensi memicu protes kalau komunikasinya kurang.

"Nelayan complain misalnya, 'kok kapal lewat-lewat?' Nah sebelum itu kita lakukan sosialisasi bahwa teknologi yang dilakukan seismik ini aman. Jadi memang harus kita melakukan mitigasi sebelum pelaksanaan program-program itu bisa kita lakukan," papar Erika.

Lantas, bagaimana cara mengatasinya? Kuncinya ada pada pendekatan personal dan mempelajari medan sosial terlebih dahulu. Erika menegaskan pentingnya mengenali siapa tokoh yang didengar di masyarakat.

"Nah tentu yang tadi, kita mulai masuk ke suatu wilayah, kita pelajari dulu medannya. Siapa tokoh masyarakat yang ada di sana, siapa yang bisa didengar, apa harapan yang disampaikan bagi orang luar yang untuk masuk," tambahnya.

Strategi ini kemudian diwujudkan melalui beragam Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Sepanjang 2025 saja, tercatat ada 831 program kemasyarakatan yang dijalankan PHE. Isunya beragam, mulai dari lingkungan, ekonomi, sampai infrastruktur. Enam puluh di antaranya bahkan fokus pada ketahanan pangan, sebagai upaya mendukung swasembada nasional.

Namun begitu, Erika menekankan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Perusahaan harus luwes, beradaptasi dengan karakter unik setiap daerah. Tidak ada resep yang sama untuk semua lokasi.

“Intinya adalah bagaimana perusahaan bisa membuat masyarakat menjadi mandiri, sehingga terjadilah apa ya, circle ekonomi ataupun kebutuhan masyarakat tersebut bisa terjawab,” pungkas Erika.

Pada akhirnya, bagi PHE, semua upaya ini bertujuan menciptakan harmoni. Bukan sekadar menjalankan bisnis, tetapi juga menjadi bagian dari komunitas yang memberdayakan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar