Wakil Direktur Utama Lepas Saham Rp5 Miliar, Harga NRCA Anjlok 10%

- Sabtu, 20 Desember 2025 | 05:15 WIB
Wakil Direktur Utama Lepas Saham Rp5 Miliar, Harga NRCA Anjlok 10%

Menjelang akhir tahun, aksi jual besar-besaran terjadi di PT Nusa Raya Cipta Tbk. Pelakunya bukan investor biasa, melainkan salah satu petinggi perusahaan itu sendiri, Eddy Purwana Wikanta. Sebagai Wakil Direktur Utama, dia melepas saham senilai miliaran rupiah dalam tiga hari saja.

Transaksi itu terjadi pada 16 hingga 18 Desember 2025. Eddy menjual 2,2 juta lembar saham NRCA. Harganya bervariasi, antara Rp2.000 sampai Rp2.024 per saham. Kalau dijumlah, nilai totalnya mencapai Rp5 miliar. Cukup signifikan.

Lalu apa tujuannya?

"Tujuan dari transaksi untuk divestasi," ujar Eddy lewat keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Jumat (19/12/2025).

Efeknya langsung terasa. Porsi kepemilikan Eddy di perusahaan konstruksi itu yang merupakan anak usaha PT Surya Semester Internusa Tbk (SSIA) anjlok. Tadinya 2,46 persen, sekarang cuma tersisa 2,37 persen. Meski begitu, posisinya masih kuat. Dia masih mengantongi 59,15 juta saham NRCA yang nilainya sekitar Rp105 miliar.

Reaksi pasar? Cukup keras. Di penutupan perdagangan hari itu, saham NRCA ambles 10 persen ke level Rp1.780. Kapitalisasi pasarnya pun tergerus, menyusut jadi Rp4,4 triliun. Sebuah koreksi yang tajam.

Namun begitu, kalau dilihat dari perjalanan sepanjang tahun, performa NRCA sebenarnya luar biasa. Sahamnya sempat melesat hingga 400 persen! Kenaikan gila-gilaan ini didorong rumor masuknya taipan ternama, Prajogo Pangestu. Kabar itu sempat beredar kencang, meski akhirnya dibantah oleh PT Barito Pacific Tbk.

Yang menarik, Eddy bukan satu-satunya yang sedang mengurangi kepemilikan. Pemegang saham minoritas lain, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk, juga terlihat aktif melego saham NRCA. Data dari KSEI menunjukkan, Saratoga mulai jual-jual pada November 2025. Itu adalah kali pertama mereka menjual sejak jadi investor.

Sepanjang bulan November, Saratoga melepas sekitar 22,5 juta saham. Alhasil, kepemilikannya yang semula 6,89 persen, menyusut ke level 6,11 persen. Ada apa, ya? Momen divestasi ini kebetulan atau ada sinyal tertentu? Pasar pasti akan mencermati langkah-langkah selanjutnya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar