Setelah Vakum, Saham INET Disorot dengan Target Harga Melonjak 74%

- Rabu, 10 Desember 2025 | 12:25 WIB
Setelah Vakum, Saham INET Disorot dengan Target Harga Melonjak 74%

Setelah empat hari vakum dari perdagangan, saham dan waran INET akhirnya kembali beredar di Bursa Efek Indonesia, tepatnya hari Rabu kemarin. Langsung saja, pergerakannya dipantau ketat di papan full-call auction.

Samuel Sekuritas, yang selama ini mengawasi emiten ini, ternyata tak ragu. Mereka malah mengukuhkan rekomendasi "speculative buy" dan yang lebih mencengangkan melontarkan target harga baru yang jauh lebih tinggi. Angkanya? Rp1.350 per lembar saham. Kalau dibandingkan dengan harga penutupan terakhir di Rp775, potensi kenaikannya mencapai 74,2%. Sungguh sebuah lompatan yang fantastis.

“Kenaikan target harga yang fantastis ini didasarkan pada perbaikan estimasi laba dan kinerja perusahaan yang kuat, terutama pada kuartal ketiga tahun 2025,”

Begitu bunyi kutipan riset mereka, seperti dilansir Rabu lalu. Dan memang, laporan keuangan hingga September 2025 itu luar biasa. Bisa dibilang eksplosif.

Laba bersihnya melesat hingga 818,9% year-on-year. Sementara pendapatan perusahaan tercatat Rp68,6 miliar, naik 190,5%. Angka laba itu sendiri sudah mencakup 86% dari estimasi penuh yang dibuat Samuel Sekuritas untuk tahun ini. Pertumbuhan pendapatan paling banyak disumbang oleh segmen layanan ISP, yang menyetor Rp67 miliar.

Lalu, apa yang mendorong lonjakan dahsyat ini? Ternyata, ekspansi pelanggan mitra INET, PT Solusi Sinergi Digital (WIFI), punya peran besar. Dari hanya 220 ribu pelanggan di akhir 2024, jumlahnya meroket jadi 1,5 juta pelanggan pada September 2025. Hanya dalam sembilan bulan.

Di sisi lain, profitabilitas perusahaan juga menunjukkan perbaikan signifikan. Marjin laba kotor di kuartal III 2025 mencapai 66,3%, sementara marjin EBITDA bahkan lebih tinggi, 76,4%. Nilai EBITDA-nya sendiri membengkak menjadi Rp18 miliar.

Namun begitu, cerita besarnya mungkin justru ada di rencana ke depan. INET dikabarkan sedang menyiapkan pendanaan jumbo senilai Rp4,2 triliun. Rinciannya, ada rights issue sekitar Rp3,2 triliun yang masih menunggu lampu hijau dari OJK, plus rencana penerbitan obligasi senilai Rp1 triliun di tahun 2026.

Dana segunung itu rencananya akan dipakai untuk banyak hal. Mulai dari pembangunan kabel bawah laut, proyek Fiber To The Home (FTTH), hingga pengembangan layanan internet berbasis node. Tidak hanya itu, perusahaan juga berencana mengakuisisi PT Personel Alih Daya Tbk (PADA) dan PT Trans Hybrid Communication (THC) untuk memperkuat kapasitas di bidang kontraktor FTTH dan managed services.

Dengan dukungan ekspansi semacam ini, proyeksi laba pun dibuat sangat agresif. Untuk tahun 2026, laba diproyeksikan meledak 849,2% menjadi Rp257 miliar. Dan di 2027, angkanya diprediksi mencapai Rp736 miliar, tumbuh 185,7% lagi.

Valuasi target harga Rp1.350 itu sendiri didasarkan pada multiple EV/EBITDA 2027F sebesar 25x. Meski optimis, Samuel Sekuritas tetap mengingatkan sejumlah risiko. Di antaranya adalah kemungkinan keterlambatan ekspansi, realisasi pertumbuhan pelanggan yang ternyata di bawah ekspektasi, dan tentu saja, pelemahan daya beli masyarakat yang bisa memengaruhi segalanya.

Jadi, meski suspensi telah dibuka dan prospek terlihat cerah, jalan menuju target harga itu jelas tidak akan mulus. Butuh eksekusi yang sempurna dari manajemen.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar