Wall Street ditutup di zona merah pada Selasa kemarin. Sentimen pasar tertekan oleh dua hal: sinyal dari Federal Reserve yang masih buram dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang terus merangkak naik.
Menurut pantauan Reuters, kondisi ini bikin para investor memilih untuk menahan napas. Mereka tampaknya lebih suka menunggu dan melihat dulu, sebelum keputusan suku bunga The Fed resmi diumumkan hari ini, Rabu.
Perdagangan berlangsung cukup beragam. Indeks Dow Jones anjlok 0,37 persen ke level 47.564,50. S&P 500 juga melemah, meski tipis, 0,09 persen ke 6.840,32. Nasdaq Composite sedikit berbeda, masih mampu bertahan di wilayah hijau dengan kenaikan 0,13 persen ke 23.577,24.
Tekanan sebenarnya sudah terasa sejak bel dibuka. Pasar memang masih percaya peluang pemotongan suku bunga itu besar, tapi di saat bersamaan, mereka juga waswas. Kekhawatirannya, bank sentral bakal tetap mempertahankan nada komunikasi yang keras, atau hawkish.
Rapat The Fed kali ini berlangsung dalam situasi yang serba tak pasti. Inflasi masih bandel, jauh di atas target 2 persen yang diidamkan. Belum lagi, para pejabat bank sentral sendiri dalam beberapa hari terakhir justru saling bersilang pendapat soal arah kebijakan ke depan. Bikin bingung, kan?
Data tenaga kerja terbaru pun tak banyak membantu memberikan kejelasan. Memang, lowongan kerja naik sedikit di Oktober. Tapi di lapangan, proses perekrutannya sendiri masih terasa lesu. Namun begitu, laporan terpisah dari National Federation of Independent Business justru menunjukkan hal sebaliknya: banyak perusahaan yang masih punya niat untuk merekrut dalam waktu dekat. Kontradiktif.
Jeff Schulze, Kepala Strategi Ekonomi dan Pasar di ClearBridge, punya pandangannya sendiri. Menurut dia, kondisi tenaga kerja yang seperti ini bisa membuat The Fed bersikap lebih berhati-hati, alias kurang dovish, dibanding yang diharapkan pasar.
"Tampaknya bias pasar saat ini adalah bahwa Fed akan bersikap sedikit kurang dovish karena adanya lowongan pekerjaan," ucap Jeff.
Masalah lain datang dari pasar obligasi. Imbal hasil Treasury AS untuk tenor 10 tahun terus menguat, bahkan sudah empat hari berturut-turut, dan menembus 4,18 persen. Kenaikan ini jelas jadi beban tambahan untuk saham.
Justin Bergner, seorang manajer portofolio di Gabelli Funds, menganggap hal itu wajar. "Tidak mengherankan jika reli ekuitas akan terhenti menjelang keputusan Fed dan imbal hasil obligasi terus meningkat," katanya.
Sektor perbankan sempat coba bangkit di awal sesi, dengan indeksnya nyaris naik 1 persen. Sayang, optimisme itu langsung pupus setelah JP Morgan mengeluarkan pernyataan yang cukup mencemaskan. Bank raksasa itu memproyeksikan beban operasionalnya bakal melonjak drastis.
Marianne Lake, pimpinan divisi Consumer and Community Banking JP Morgan, memberikan rinciannya. Dia memperkirakan pengeluaran bakal membengkak jadi sekitar 105 miliar dolar AS pada 2026. Penyebab utamanya? Biaya untuk mendukung pertumbuhan dan volume transaksi yang membesar.
Dari kacamata sektoral, saham energi jadi penyelang hari itu dengan catatan penguatan terbaik. Sementara itu, sektor kesehatan justru terpuruk paling dalam. Saham-saham teknologi bergerak fluktuatif, diwarnai kabar bahwa Presiden Donald Trump mengizinkan Nvidia mengekspor chip H200 ke China dengan catatan kena tarif 25 persen. Tapi, kabar baik itu sedikit dikeruhkan laporan Financial Times yang menyebut Beijing justru bersiap memperketat akses terhadap chip serupa.
Pasar juga punya banyak hal untuk dinantikan. Laporan keuangan dari Oracle dan Broadcom bakal jadi indikator penting untuk melihat prospek belanja infrastruktur AI ke depan. Tak kalah seru, persaingan akuisisi antara Paramount Skydance dan Netflix untuk mengincar Warner Bros juga menyita perhatian banyak investor. Semuanya menunggu, apa langkah berikutnya.
Artikel Terkait
Pendapatan Cinema XXI Tembus Rp1,1 Triliun di Kuartal I-2026, Naik 18,2 Persen
Saham BRI Tertekan, Dirut Sebut Fundamental Solid dan Imbau Investor Fokus pada Dividen
Pemerintah Targetkan Program B50 Serap 1,9 Juta Tenaga Kerja pada 2026
ESSA Cetak Laba Bersih Melonjak 131 Persen di Awal 2026, Didorong Kenaikan Harga Amoniak