Hingga saat ini, belum ada pengumuman resmi. Pemerintah pun diam saja, belum memberi tanggapan atas permintaan konfirmasi yang diajukan sejak Senin.
Di sisi lain, sistem belanja di gerai Riyadh cukup unik. Pelanggan berbelanja dengan kuota bulanan berbasis poin. Rencananya, dua gerai baru sedang dibangun di kota lain. Ini bagian dari skema bertahap untuk memperluas penjualan alkohol di negara yang terkenal dengan pembatasan ketatnya selama puluhan tahun.
Memang, langkah ini tidak berdiri sendiri. Sejalan dengan serangkaian reformasi sosial yang digencarkan, Arab Saudi berambisi menjadikan Riyadh pusat bisnis yang lebih kompetitif. Relaksasi aturan, dalam pandangan mereka, bisa jadi magnet bagi talenta global dan modal asing.
Perubahannya nyata. Beberapa tahun belakangan, kerajaan mencabut banyak larangan. Perempuan boleh mengemudi. Hiburan publik, musik, digelar di mana-mana. Bahkan percampuran antara pria dan wanita di ruang publik kini sudah biasa dilihat. Semua bergerak, perlahan tapi pasti.
Artikel Terkait
Menkeu Purbaya Tantang Investor: Tertawakan Saya, Tapi Jangan Lupa Investasi
Cincin Donat untuk Pejalan Kaki: MRT Jakarta Rancang Jembatan Melingkar di Dukuh Atas
Pertamina Usul Batasi Pembelian LPG 3 Kg Maksimal 10 Tabung per KK Mulai 2026
LPS Soroti Suku Bunga Simpanan yang Belum Turun Sesuai Sinyal Pasar