Wall Street lagi tegang nih. Para investor di pasar modal AS lagi sibuk bersiap-siap, menunggu-nunggu hasil rapat penting The Fed pekan depan. Soalnya, keputusan suku bunga acuan bakal keluar, dan arahnya masih benar-benar nggak jelas.
Gonjang-ganjing ini muncul karena di dalam tubuh Federal Reserve sendiri ternyata lagi panas. Menjelang rapat Federal Open Market Committee (FOMC) tanggal 9-10 Desember nanti, suara para anggota dewan terbelah. Yang menarik, lima dari dua belas anggota pemilih justru bersikap skeptis atau bahkan menolak rencana pemangkasan suku bunga. Di sisi lain, cuma tiga anggota yang mendukung penurunan Fed Rate.
Perpecahan seperti ini jarang banget terjadi. Faktanya, FOMC terakhir kali mencatat perbedaan pendapat sebanyak ini way back in 2019. Makanya, situasi sekarang jadi sorotan utama.
Michael Rosen, Chief Investment Officer di Angeles Investments, ngasih komentar soal ini.
"Hal itu akan menarik perhatian karena memberikan gambaran tentang ke mana arah kebijakan The Fed di masa depan," ujarnya.
Menurut Rosen, ketidakpastian yang bikin pusing ini muncul dari usaha bank sentral buat menyeimbangkan dua hal: kondisi ketenagakerjaan dan stabilitas inflasi. Dua sisi yang sama-sama pelik.
Data ekonomi terbaru malah bikin makin ruwet. Di satu sisi, laporan inflasi PCE Index Jumat lalu sesuai ekspektasi, dan sentimen konsumen juga naik. Tapi, angka-angka itu nggak cukup buat mengubah ekspektasi pasar. Di sisi lain, data klaim pengangguran yang rilis Kamis malah turun ke level terendah dalam lebih dari tiga tahun. Laporan ini bikin khawatir soal pelemahan pasar tenaga kerja agak mereda, tapi sekaligus kok malah memperkuat spekulasi bahwa Fed Rate bakal turun. Pusing kan?
Nah, akhir pekan ini, data dari LSEG menunjukkan mayoritas pelaku pasar tepatnya 84% udah memperhitungkan potensi pemotongan suku bunga sebesar 25 basis points pada rapat mendatang. The Fed terakhir kali turunin suku bunga akhir Oktober lalu, jadi wajar kalau ekspektasi masih menguat.
Tapi jangan salah, jalan masih terjal. Komentar Ketua Fed Jerome Powell sebelumnya ngegas bahwa pemangkasan suku bunga di Desember ini bukanlah hal yang sudah dipastikan. Jadi, tetap ada kemungkinan kejutan.
Meski begitu, ada juga yang anggap rapat Desember ini nggak akan terlalu signifikan dampaknya untuk jangka panjang. Jeremiah Buckley, seorang Manajer Portofolio Ekuitas di Janus Henderson, berpendapat lain.
"Mungkin ada fluktuasi jangka pendek, tetapi apa yang mereka lakukan pada paruh pertama tahun 2026, menurut saya, lebih penting daripada bulan Desember," katanya.
Pendapat senada datang dari Tony Roth, CIO Wilmington Trust. Dia perkirakan pasar nggak akan banyak bergerak bahkan kalau The Fed beneran motong suku bunga. Soalnya, keputusan mereka udah dianggap hampir pasti. Yang bakal jadi fokus justru proyeksi kebijakan untuk tahun depan.
"Keputusan the Fed sudah sangat dipastikan pada tahap ini. Yang akan menjadi fokus utama adalah proyeksinya (tahun depan)," katanya.
Memang, pertimbangan para anggota Fed sekarang makin kompleks. Gara-gara shutdown pemerintahan federal yang nyaris satu setengah bulan itu, rilis data ekonomi jadi molor dan nggak lengkap. Mereka harus ambil keputusan dengan informasi yang mungkin belum komplet.
Secara historis, indeks S&P 500 udah naik cukup tajam, 16,6% sepanjang tahun ini. Jadi, apapun keputusan The Fed pekan depan, pasar mungkin cuma akan bereaksi sesaat sebelum kembali fokus pada hal yang lebih besar: apa yang akan terjadi di 2026.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020