Komisaris Utama Primaya Gelontorkan Rp2,66 Miliar untuk Borong Saham Perusahaan

- Rabu, 26 November 2025 | 08:05 WIB
Komisaris Utama Primaya Gelontorkan Rp2,66 Miliar untuk Borong Saham Perusahaan

Di tengah hiruk-pikuk pasar modal, ada gerakan menarik dari internal PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk, atau yang lebih dikenal sebagai operator rumah sakit Primaya. Jajaran komisarisnya baru saja melakukan pembelian saham perusahaan. Ini murni langkah investasi pribadi, bukan aksi korporat.

Yang menarik perhatian adalah besarnya transaksi. Komisaris Utama, Yos Effendi Susanto, tak tanggung-tanggung membeli 3,35 juta saham PRAY. Aksi beli ini terjadi pada 18 November 2025 dengan harga Rp795 per lembar saham. Kalau dihitung-hitung, total dana yang ia gelontorkan mencapai Rp2,66 miliar. Cukup signifikan.

Leona Agustine Karnali, selaku Direktur Primaya yang bertindak sebagai penerima kuasa, membenarkan transaksi tersebut.

"Aksi ini merupakan transaksi pribadi," tegas Leona melalui keterbukaan informasi yang dirilis Selasa (25/11/2025).

Sebelum pembelian besar ini, kepemilikan saham Yos Effendi tercatat sebanyak 414 juta saham. Setelah transaksi, jumlahnya melonjak menjadi 418 juta saham. Dengan kata lain, porsinya naik sedikit, dari 0,82% menjadi 0,84%.

Di sisi lain, performa operasional Primaya sendiri cukup solid. Sebagai operator jaringan rumah sakit, mereka punya portofolio fasilitas kesehatan yang tersebar di sejumlah kota besar. Ekspansi terus digenjot, mulai dari pembangunan RS baru hingga peningkatan kapasitas layanan spesialis. Layanan unggulannya, seperti ibu dan anak serta perawatan intensif, menjadi fokus utama.

Lalu, bagaimana kinerja keuangannya? Hingga kuartal III-2025, pendapatan perseroan tercatat Rp1,75 triliun. Angka ini menunjukkan kenaikan jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,55 triliun.

Namun begitu, ada catatan di bagian laba bersih. Angkanya justru turun, dari sebelumnya Rp216,7 miliar menjadi Rp163,2 miliar. Meski begitu, dari sisi profitabilitas, kondisi PRAY terbilang sehat. Margin laba kotornya berada di 28,1 persen, sementara margin EBITDA bertahan di level 21,9 persen. Untuk margin laba bersih, angkanya adalah 9,3 persen.

Jadi, meski laba bersihnya merosot, fundamental perusahaan masih menunjukkan daya tahan yang cukup baik.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar