PT Krakatau Steel (KRAS) sedang berupaya keras mempercepat transformasi bisnisnya. Targetnya jelas: mengembalikan profitabilitas perusahaan. Langkah ini makin kuat berkat dukungan finansial dari Danantara.
Hingga kuartal ketiga tahun 2025, perusahaan pelat merah ini sudah membukukan laba sekitar Rp401 miliar. Angka ini jadi penanda awal yang bagus. Direktur Utama Krakatau Steel, Akbar Djohan, menyebut perusahaan kini berada di jalur pemulihan yang tepat.
“Tujuannya agar perusahaan tidak hanya keluar dari tekanan finansial, tetapi tumbuh sebagai entitas yang kompetitif dan berkelanjutan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (25/11/2025).
Menurut Akbar, perbaikan kinerja ini didorong oleh beberapa faktor kunci. Efisiensi produksi ditingkatkan, rantai pasok dioptimalkan, tata kelola diperkuat, dan restrukturisasi dilakukan secara menyeluruh. Di sisi lain, kehadiran Danantara ibarat katalis yang mempercepat proses ini. Dukungan mereka membantu menstabilkan pasokan bahan baku, meningkatkan utilisasi fasilitas, dan memperpendek siklus produksi. Alhasil, daya saing harga dan ketepatan pengiriman ke pelanggan pun ikut terdongkrak.
Tak lupa, Akbar juga mengapresiasi para kreditur yang sepakat dengan program Penyelesaian Kewajiban Dipercepat dengan keringanan atau haircut. Tahap awal sudah dilakukan September lalu dengan empat bank swasta. Dari total kewajiban US$200 juta, perseroan membayar US$35 juta. Mereka pun mendapat diskon fantastis sekitar 82,5 persen, yang menghasilkan laba haircut sebesar US$157 juta.
Secara keseluruhan, transaksi haircut ini diproyeksikan mendatangkan laba sekitar US$295 juta. Yang tak kalah penting, kewajiban pokok restrukturisasi bakal turun 20 persen atau setara US$290 juta. Perusahaan juga bakal menikmati penghematan biaya bunga sekitar US$3,5 juta per tahun. Lumayan, kan?
Struktur permodalan yang kini lebih sehat ini membuka peluang besar. Ruang untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat posisi di rantai pasok baja nasional jadi lebih lebar. Ini jadi landasan kokoh bagi Krakatau Steel untuk menutup tahun 2025 dengan catatan kinerja yang positif.
Sementara itu, dari kacamata Danantara, Krakatau Steel dinilai sebagai industri strategis yang harus segera dipulihkan. Apalagi, kebutuhan baja domestik dan regional diprediksi terus meroket.
Managing Director Business-3 Danantara Asset Management, Febriany Eddy, menekankan pentingnya revitalisasi BUMN baja ini. Tujuannya agar bisa mengimbangi laju pertumbuhan sektor konstruksi, transportasi, dan manufaktur.
“Pertumbuhan industri baja selalu selaras dengan pertumbuhan ekonomi. Karena itu, melihat industri baja tidak bisa hanya dari kondisi hari ini,” katanya.
Bagi Danantara, industri baja adalah investasi jangka panjang yang mutlak memerlukan efisiensi berkelanjutan.
“Investasinya bersifat jangka panjang 10 sampai 15 tahun ke depan. You invest for tomorrow, not today. Tetapi hari ini industrinya tetap harus efisien dan efektif,” tegas Febriany.
Dukungan ini juga punya relevansi strategis yang dalam. Ia selaras dengan agenda pembangunan nasional dalam kerangka Asta Cita Presiden RI, yang menekankan kemandirian industri, hilirisasi manufaktur, serta kedaulatan rantai pasok baja untuk infrastruktur dan pertahanan.
Dengan semua langkah perbaikan dan dukungan strategis yang berjalan, Krakatau Steel melangkah ke 2025 dengan optimisme. Mereka yakin posisinya kini lebih kuat dan siap mencetak laba secara berkelanjutan.
Artikel Terkait
Wall Street Menguat di Awal Perdagangan, Optimisme AI dan Harapan Damai AS-Iran Jadi Pendorong
PT Segar Kumala Indonesia Alihkan Transaksi Impor ke Yuan China untuk Tekan Dampak Pelemahan Rupiah
Citra Tubindo Bagikan Dividen 21,78 Juta Dolar AS ke Pemegang Saham
PT BEEF Rombak Direksi dan Komisaris, Ari Wijayanto Ditunjuk sebagai Dirut Baru