Seorang guru di Belu, NTT, dilaporkan ke polisi usai diduga menganiaya muridnya sendiri. Korban, seorang siswi SMA berusia 16 tahun berinisial SMN, sampai pingsan akibat perlakuan gurunya itu. Kejadiannya berawal dari sebuah ujian Biologi.
Menurut keterangan polisi, insiden ini terjadi Selasa siang lalu. Saat itu, SMN dan teman-temannya sedang menghadapi soal ujian yang mengharuskan mereka menggambar neuron atau sel saraf. Tampaknya, banyak yang kesulitan.
Guru pengampu mata pelajaran tersebut, Vince Aplugi, disebutkan kehilangan kesabaran. Bukannya memberi penjelasan, Vince malah memukul kepala SMN menggunakan botol air mineral yang dipegangnya.
“Terlapor menganiaya korban dengan menggunakan botol yang berisikan air mineral serta menarik rambut dan membanting korban di kursi hingga pingsan,” jelas Kasat Reskrim Polres Belu, AKP Rachmat Hidayat.
Setelah dipukul, botol itu diberikan kepada SMN. Gadis itu lalu membuangnya ke tempat sampah. Bunyi dari tempat sampah itu rupanya menarik perhatian sang guru.
Vince pun bertanya siapa pelakunya. SMN mengaku. Apa yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan.
Dengan emosi yang masih memuncak, Vince menghampiri siswinya. Tanpa ampun, rambut SMN dijambak, lalu tubuhnya dibanting ke kursi hingga tak sadarkan diri. Korban mengeluh pusing dan sakit di bagian kepala usai kejadian.
Tak terima dengan perlakuan tersebut, keluarga korban akhirnya melaporkan guru itu ke Polres Belu. Pihak kepolisian sudah melakukan visum untuk memastikan luka-luka yang dialami SMN. Proses hukum kini sedang berjalan.
Kasus ini tentu menyisakan pertanyaan besar. Bagaimana mungkin sebuah ketidakmampuan menjawab soal ujian dibalas dengan kekerasan fisik yang sedemikian hebat? Lingkungan sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman untuk belajar, termasuk untuk melakukan kesalahan.
Artikel Terkait
Netanyahu Bantah Gencatan Senjata, Tegaskan Israel Lanjutkan Operasi di Lebanon Selatan
Polda Metro Jaya Lacak Aset Bos Hanania Travel demi Pulihkan Kerugian Korban Umrah
Pengisian Baterai Mobil Listrik Hingga 100 Persen Dinilai Tidak Efisien, Ini Penjelasannya
Peneliti BRIN Usul Pilkada Tak Lagi Seragam, Terapkan Desain Asimetris Sesuai Karakter Daerah