Kalau bicara soal RMKE, pasti yang langsung terlintas adalah bisnis batu baranya yang besar. Tapi siapa sebenarnya yang memegang kendali perusahaan ini?
PT RMK Energy Tbk, atau yang biasa kita kenal sebagai RMKE, sebenarnya sudah berdiri sejak 2009 lalu. Awalnya, mereka fokus di jasa logistik pertambangan batu bara di wilayah Sumatera Selatan. Namun seiring waktu, bisnisnya merambah ke perdagangan batu bara langsung.
Yang menarik, RMKE punya sistem angkutan terintegrasi yang cukup mumpuni. Mereka bekerja sama dengan PT KAI untuk mengangkut batu bara via kereta dari Lahat dan Muara Enim. Menurut informasi dari laman resmi mereka, sistem ini menjadi tulang punggung operasional perusahaan.
Perkembangan RMKE terbilang konsisten. Dimulai dari pelabuhan yang beroperasi pada 2014 dengan kapasitas awal 1 juta ton per tahun. Hanya dalam waktu tiga tahun, angka itu melonjak jadi 3 juta ton. Kini, di penghujung 2024, kapasitasnya sudah mencapai 9 juta ton per tahun – sebuah pertumbuhan yang cukup signifikan.
Tak hanya mengandalkan pelabuhan, perseroan terus berinovasi dengan membangun conveyor belt, train loading system, dan fasilitas bottom dump. Semua ini mendukung empat pilar bisnis utama mereka: stasiun bongkar muat kereta, manajemen pelabuhan, coal offtake and joint operation, plus pertambangan batu bara melalui anak perusahaannya.
Di Palembang, RMKE mengoperasikan Pelabuhan Musi 2 yang menawarkan layanan lengkap mulai dari penimbunan, penghancuran batu bara, hingga pemuatan ke tongkang.
Sementara di sektor pertambangan, melalui PT Truba Bara Banyu Enim, mereka mengelola lahan seluas 10.220 hektare di Gunung Megang dan Benakat, Muara Enim. Cadangan terbuktinya mencapai 75 juta ton – angka yang cukup membuat investor melirik.
Artikel Terkait
Emas Melonjak, Analis Ramalkan Sentuhan Rekor Baru di Atas USD 5.000
Emas Antam Tembus Rp 2,6 Juta, Kenaikan Tajam Warnai Pasar Pekan Lalu
Gairah Asing Borong Saham, IHSG Tembus Rekor Baru
Sertifikat SMKHP Buka Pasar Global, Selamatkan Ekspor Udang Rp 63 Miliar