Rupiah tutup melemah di perdagangan Kamis kemarin. Mata uang kita terdepresiasi 42 poin, atau sekitar 0,25 persen, ke level Rp16.828 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah sorotan terhadap kondisi fiskal dalam negeri yang dinilai makin mendapat tekanan.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, beban anggaran negara terasa kian berat. Di satu sisi, belanja membengkak, sementara di sisi lain, penerimaan masih belum pasti. Kewajiban pembayaran utang pemerintah pun terus membayangi.
Ibrahim merinci dalam risetnya, "Dalam APBN 2026, belanja negara ditetapkan sebesar Rp3.842,7 triliun."
Angka itu, katanya, melonjak cukup signifikan tepatnya Rp391,3 triliun dibandingkan realisasi belanja tahun 2025 yang tercatat Rp3.451,4 triliun.
Rinciannya, belanja pemerintah pusat menempati porsi terbesar: Rp3.149,7 triliun. Lalu, ada transfer ke daerah sebesar Rp693 triliun. Nah, dari angka belanja pusat tadi, hal yang paling menyita perhatian adalah alokasi untuk pembayaran bunga utang. Porsinya mencapai sekitar 19 persen, dan itu belum termasuk cicilan pokoknya. Cukup besar, bukan?
Selain untuk utang, anggaran juga tersedot untuk program-program besar lain. Ambil contoh program makan bergizi gratis lewat Badan Gizi Nasional (BGN), yang menyerap 8,51 persen. Kemudian, anggaran untuk Kementerian Pertahanan dan TNI ada di angka 5,94 persen, disusul anggaran Polri sebesar 4,63 persen.
Namun begitu, mengejar target penerimaan negara bukannya perkara mudah. Pemerintah sendiri mematok defisit anggaran cukup tinggi, Rp689,14 triliun atau setara 2,68 persen dari PDB. Yang jadi sorotan utama adalah rasio pembayaran utang atau debt service ratio (DSR). Rasio ini diprediksi bisa menembus 40 persen jauh di atas batas aman internasional yang umumnya sekitar 30 persen. Situasi ini jelas bikin was-was.
Faktor eksternal juga ikut bermain. Dari seberang lautan, Presiden AS Donald Trump menyatakan belum ada kesepakatan pasti dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu soal langkah negosiasi dengan Iran. Pernyataan ini keluar usai mereka berbicara pada Rabu. Meski begitu, Trump menegaskan pembicaraan dengan Teheran akan terus berjalan.
Sebelumnya, di hari Selasa, Trump bahkan sempat mempertimbangkan mengirim kapal induk kedua ke Timur Tengah jika kesepakatan dengan Iran gagal dicapai. Situasi geopolitik yang tetap panas ini selalu berpotensi menggoyah sentimen pasar.
Lalu, data dari Amerika juga memberi pengaruh. Laporan ketenagakerjaan AS untuk Januari yang baru dirilis ternyata lebih kuat dari perkiraan. Nonfarm Payrolls (NFP) naik 130 ribu, mengalahkan ekspektasi yang hanya sekitar 70 ribu. Angka ini juga lebih baik dari revisi data Desember yang sebesar 48 ribu.
Tingkat penganggurannya pun sedikit membaik, turun jadi 4,3 persen dari sebelumnya 4,4 persen.
Dari sisi pendapatan, ada kenaikan yang cukup menggembirakan. Pendapatan Per Jam Rata-Rata naik 0,4 persen secara bulanan, melompat dari kenaikan 0,1 persen di bulan sebelumnya dan melampaui prediksi pasar sebesar 0,3 persen. Secara tahunan, angkanya bertahan di 3,7 persen, juga sedikit di atas ekspektasi.
Nah, laporan yang solid ini pada akhirnya mengurangi desakan untuk pemotongan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Imbasnya, dolar AS mendapat angin segar untuk menguat dalam jangka pendek. Tekanan terhadap rupiah pun bertambah.
Jadi, gabungan antara kekhawatiran fiskal domestik dan penguatan dolar AS dari data eksternal, seperti dua sisi mata uang yang sama-sama mendorong rupiah ke posisi yang lebih lemah di penutupan perdagangan kemarin.
Artikel Terkait
Saham Indospring (INDS) Melonjak 21%, Riwayat Emiten Pegas Kendaraan Kembali Diingat
Nagita Slavina Masuk Sebagai Calon Pengendali Baru PT VISI, Saham Terkoreksi Tajam
Pemerintah Pangkas Kuota Produksi Batu Bara dan Nikel pada 2026
BEI Perketat Aturan Transparansi dan Kepemilikan Saham Respons Tekanan Pasar