Rupiah Moncer di Akhir Pekan, Prospek Senin Dibayangi Fluktuasi

- Sabtu, 22 November 2025 | 15:06 WIB
Rupiah Moncer di Akhir Pekan, Prospek Senin Dibayangi Fluktuasi
Analisis Pergerakan Rupiah

Pekan ini, rupiah menunjukkan performa yang cukup moncer. Berdasarkan pantauan Bloomberg, mata uang kita ditutup pada level Rp 16.716 per dolar AS pada Jumat (21/11). Angka ini menguat 20 poin dibanding penutupan sesi sebelumnya yang berada di posisi Rp 16.736.

Namun begitu, prospek untuk perdagangan Senin depan tampaknya tidak akan semulus itu. Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Trazé Andalan Futures, memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dan cenderung ditutup melemah. Rentang yang diprediksi adalah antara Rp 16.710 hingga Rp 16.740 per dolar AS.

Lalu, apa saja yang mendorong penguatan rupiah kali ini? Menurut Ibrahim, ada kombinasi faktor eksternal dan internal yang berperan. Dari peta global, ada secercah harapan dari progres perdamaian Rusia dan Ukraina.

“Zelensky siap bekerja sama dengan AS dalam rencana perdamaian Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan ia telah menerima rencana perdamaian 28 poin yang disusun bersama oleh AS dan Rusia yang menandakan kesediaannya untuk segera mengerjakannya,” katanya dalam sebuah analisis, dikutip Sabtu (22/11).

Meski terdengar positif, rencana itu konon meminta pemerintah Ukraina untuk menyerahkan seluruh wilayah Donbas dan memangkas kekuatan militernya secara signifikan, seperti dilaporkan Reuters.

Di sisi lain, sanksi AS terhadap raksasa minyak Rusia, Rosneft dan Lukoil, resmi berlaku Jumat malam. Sanksi yang diumumkan awal tahun ini dampaknya sudah terasa. Pembeli utama seperti India dan China disebut-sebut sudah mulai menarik diri dari pembelian kargo.

Faktor eksternal lain datang dari The Fed. Ibrahim, yang juga pengamat mata uang dan komoditas, menyebut bank sentral AS itu kecil kemungkinannya akan memotong suku bunga acuan pada Desember. Ini didasari oleh laporan ketenagakerjaan AS yang mencatat penambahan tak terduga 119.000 lapangan kerja untuk bulan September. Meski begitu, tingkat pengangguran justru naik ke 4,4 persen dan data bulan-bulan sebelumnya direvisi turun.

Suasana ini makin diperkuat dengan komentar hawkish dari sejumlah petinggi The Fed. Presiden Fed Cleveland, Beth Hammack, mengingatkan bahwa pelonggaran kebijakan moneter saat ini bisa memicu risiko finansial. Sementara Gubernur The Fed Michael Barr mengaku masih khawatir dengan inflasi yang bertengger di angka 3 persen.

Nah, dari dalam negeri sendiri, ada kabar baik. Ibrahim menjelaskan, laporan Bank Indonesia (BI) menyebutkan transaksi berjalan Indonesia surplus sebesar USD 4,0 miliar atau setara 1,1 persen dari PDB pada kuartal III 2025.

“Ini adalah surplus pertama sejak 10 kuartal terakhir. Posisi transaksi berjalan ini berbalik dibandingkan dengan defisit USD 2,7 miliar atau 0,8 persen dari PDB pada kuartal II tahun ini,” jelas Ibrahim.

Surplus ini, lanjutnya, ditopang oleh membaiknya neraca perdagangan Indonesia, terutama dari kenaikan surplus di sektor nonmigas. Defisit neraca jasa juga menyusut, seiring dengan ramainya kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.

Di bagian lain, neraca pendapatan primer mencatat defisit yang lebih rendah. Penyebabnya, pembayaran imbal hasil untuk investasi asing menurun karena periode pembayaran dividen dan bunga sudah lewat.

Tapi, tidak semuanya berwarna merah jambu. BI mencatat defisit neraca perdagangan migas justru meningkat, didorong oleh kenaikan harga minyak global. “Lebih lanjut, kinerja transaksi modal dan finansial tetap terkendali di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi,” tambah Ibrahim.

Yang perlu diwaspadai, investasi portofolio malah mencatat defisit. Ini terutama didorong oleh arus keluar modal asing dari surat utang. Investasi lainnya juga defisit, dipengaruhi oleh kenaikan pembayaran pinjaman sektor swasta.

“Dengan perkembangan tersebut, transaksi modal dan finansial pada triwulan III 2025 mencatat defisit sebesar USD 8,1 miliar,” tutup Ibrahim.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar