Perubahan sentimen ini langsung tercermin dalam instrumen keuangan. Kontrak futures suku bunga, yang menjadi barometer ekspektasi pasar, menunjukkan penurunan drastis probabilitas pemotongan suku bunga pada pertemuan 10 Desember. Peluangnya anjlok dari 67 persen di awal pekan menjadi hanya 47 persen.
Sinyal untuk jeda semakin diperkuat oleh pernyataan Susan Collins, Presiden Fed Boston. Collins menyatakan bahwa ambang batas untuk pelonggaran kebijakan tambahan dalam waktu dekat terbilang tinggi. "Tanpa bukti memburuknya pasar tenaga kerja secara signifikan, saya akan ragu untuk melonggarkan kebijakan lebih jauh. Hal ini terutama mengingat keterbatasan data inflasi akibat penutupan pemerintahan sebelumnya," jelasnya. Collins membuka kemungkinan bahwa suku bunga perlu dipertahankan pada level current untuk periode yang lebih lama.
Tantangan Data dan Isyarat dari Ketua Fed
Isu kelangkaan data resmi menjadi tantangan tambahan. Meski pemerintah AS telah beroperasi kembali, data inflasi dan tenaga kerja kunci mungkin tidak tersedia tepat waktu atau bahkan tidak dirilis sama sekali untuk mendukung pertemuan The Fed pada 9-10 Desember mendatang.
Kondisi ini sejalan dengan isyarat yang telah diberikan oleh Ketua The Fed, Jerome Powell, dua pekan lalu. Usai menurunkan suku bunga ke kisaran 3,75–4,00 persen, Powell menegaskan bahwa pemotongan suku bunga lagi pada pertemuan Desember masih jauh dari kepastian, terlebih dengan absennya data ekonomi resmi yang menjadi pedoman utama.
Artikel Terkait
Cadangan LPG Nasional Kembali Normal Setelah Sempat Kritis
ARNA Bagikan Dividen Rp330 Miliar, Yield Capai 8,4%
Cimory Bagikan Dividen Rp1,59 Triliun dari Laba Bersih Rp2,03 Triliun
IHSG Melonjak 2,07%, Sentimen Beli Dominasi Pasar Saham