Gelombang Panas Terparah dalam Sejarah Melanda Eropa, Ilmuwan Sebut Krisis Iklim sebagai Biang Kerok

- Senin, 29 Juni 2026 | 10:06 WIB
Gelombang Panas Terparah dalam Sejarah Melanda Eropa, Ilmuwan Sebut Krisis Iklim sebagai Biang Kerok

Eropa tengah dilanda gelombang panas terparah dan terluas sepanjang sejarah modern. Para ilmuwan menyatakan kondisi ekstrem ini kemungkinan besar dipicu oleh krisis iklim akibat pembakaran bahan bakar fosil.

Hampir setengah dari 850 kota terbesar di Eropa kini mengalami tingkat stres panas tertinggi sepanjang sejarah, yaitu kombinasi suhu tinggi dan kelembapan udara. Udara yang lebih lembap membuat keringat kurang efektif mendinginkan tubuh, sehingga gelombang panas menjadi jauh lebih berbahaya bagi kesehatan manusia.

Analisis ini dirilis ketika Inggris mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah untuk bulan Juni, yakni 36,7 derajat Celsius di Somerset pada Kamis (25/6). Banyak negara di Eropa Barat juga melonjaknya kondisi darurat medis, termasuk sejumlah laporan kematian.

Lebih dari 60 ribu orang meninggal akibat panas ekstrem di Eropa pada musim panas 2022. Untuk menghitung dampak penuh gelombang panas saat ini masih dibutuhkan analisis statistik lanjutan, tetapi para peneliti meyakini konsekuensinya akan sangat besar.

Selain risiko kesehatan, gelombang panas mengganggu kehidupan sehari-hari dan aktivitas ekonomi. Sejumlah sekolah ditutup, rumah sakit kewalahan, sementara perjalanan kereta dan penerbangan dibatalkan di berbagai wilayah.

Analisis terbaru dari konsorsium ilmuwan World Weather Attribution (WWA) menunjukkan panas ekstrem memburuk sangat cepat seiring penumpukan emisi karbon di atmosfer. Menurut mereka, jika kondisi serupa terjadi pada 2003, suhu gelombang panas saat ini kemungkinan akan 2 derajat Celsius lebih rendah karena tingkat pemanasan global saat itu belum setinggi sekarang.

Bahkan jika dibandingkan dengan gelombang panas paling bersejarah tahun 1976, suhu saat ini diperkirakan akan 3,5 derajat Celsius lebih dingin. Sementara itu, suhu malam yang membuat banyak warga sulit tidur disebut 100 kali lebih mungkin terjadi sekarang dibanding 2003.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa tanpa tindakan iklim yang mendesak, kondisi panas di masa depan akan semakin ekstrem, dan musim panas tahun ini bisa saja dianggap sejuk jika dibandingkan dengan masa mendatang.

“Ini adalah gelombang panas paling parah dan paling luas yang pernah memengaruhi wilayah sebesar ini di Eropa,” kata Dr Theodore Keeping, peneliti cuaca ekstrem dari Imperial College London sekaligus anggota tim WWA.

Menurut Keeping, selama 50 tahun terakhir ketika suhu Bumi meningkat sekitar 1,1 derajat Celsius, peluang terjadinya gelombang panas seperti ini berubah drastis. “Peristiwa seperti ini tidak mungkin terjadi pada bulan Juni tanpa perubahan iklim,” ujarnya.

Ia menambahkan, banyak ibu kota di Eropa bukan hanya mengalami periode tiga hari terpanas sepanjang Juni, tetapi juga tiga hari terpanas sepanjang tahun. Setidaknya 100 juta orang di Eropa diperkirakan menghadapi suhu di atas 35 derajat Celsius pada Kamis (25/6).

Dalam analisisnya, para ilmuwan menggunakan indikator wet bulb globe temperature, yaitu ukuran yang memperhitungkan suhu sekaligus kelembapan untuk mengetahui kemampuan tubuh manusia melepaskan panas. “Indikator ini menggambarkan kemampuan tubuh untuk mendinginkan dirinya sendiri. Dengan 45 persen kota berpenduduk lebih dari 50 ribu orang mengalami kondisi terburuk sepanjang sejarah, dampak kesehatan dari gelombang panas ini kemungkinan sangat tinggi,” kata Keeping.

Keeping menambahkan bahwa laju perubahan yang terjadi saat ini sangat mengejutkan.

Menanggapi temuan ini, Kepala Iklim PBB, Simon Stiell, mengatakan perubahan iklim kini berlangsung tidak terkendali akibat ketergantungan dunia terhadap batu bara, minyak, dan gas. “Namun solusinya juga sudah jelas, percepatan transisi ke energi bersih yang kini jauh lebih murah dibanding bahan bakar fosil serta perlindungan hutan dan pembangunan ketahanan iklim,” katanya.

Bukan Karena El Niño

Tim WWA menggunakan gabungan data suhu hasil pengamatan dan proyeksi cuaca untuk menganalisis periode tiga hari terpanas di wilayah Eropa Barat yang saat ini berada di bawah fenomena heat dome atau kubah panas. Dengan metode ilmiah yang telah ditinjau sejawat, mereka menyimpulkan bahwa perubahan iklim menjadi faktor utama yang memperparah gelombang panas. Mereka juga menepis kemungkinan bahwa kondisi ini disebabkan variasi alami cuaca, termasuk pengaruh El Niño yang sedang berkembang di Samudra Pasifik.

Menurut para ilmuwan, pola tekanan tinggi yang memerangkap udara panas di atas Eropa dan menarik udara hangat dari Gurun Sahara sebenarnya bukan fenomena yang tidak biasa saat musim panas. Yang membuatnya ekstrem adalah tambahan panas akibat pemanasan global.

Carolina Pereira Marghidan dari Red Cross Red Crescent Climate Centre mengatakan setelah gelombang panas mematikan pada 2003, banyak negara Eropa mulai berinvestasi pada sistem peringatan dini dan rencana mitigasi. Penelitian menunjukkan langkah tersebut berhasil menyelamatkan banyak nyawa, tetapi menurutnya itu belum cukup. Panas ekstrem kini semakin memengaruhi kesehatan masyarakat, sistem transportasi, energi, hingga kehidupan sehari-hari. “Kita membutuhkan investasi lebih besar untuk rumah, kota, dan infrastruktur yang tahan terhadap panas agar masyarakat tetap aman,” katanya.

Pada Mei lalu, Komite Perubahan Iklim Inggris juga memperingatkan bahwa infrastruktur negara itu dibangun untuk kondisi iklim yang tidak lagi relevan dan membutuhkan pembenahan mendesak. Data UK Health Security Agency menunjukkan lebih dari 10 ribu orang meninggal di Inggris akibat gelombang panas musim panas sepanjang 2020–2024. Bahkan pada Rabu, layanan ambulans London mencatat 641 kasus darurat mengancam jiwa dalam sehari, tertinggi sepanjang sejarah.

Kelompok paling rentan tetap lansia, anak-anak, dan individu dengan kondisi kesehatan tertentu. Namun peringatan merah dari otoritas kesehatan Inggris menegaskan bahwa semua orang kini berada dalam risiko.

Sebuah studi terhadap gelombang panas yang lebih kecil di Eropa pada 2024 menemukan bahwa hanya dalam tiga hari, lebih dari 2.300 orang meninggal di 12 kota akibat suhu tinggi. “Kami menemukan dua pertiga dari 2.300 kematian itu tidak akan terjadi jika bukan karena perubahan iklim,” kata Prof Friederike Otto, ilmuwan iklim dari Imperial College London sekaligus salah satu pendiri WWA. “Ilmuwan seperti saya mulai terdengar seperti kaset rusak, setiap tahun kembali merespons suhu ekstrem yang terus memecahkan rekor. Ya, ini perubahan iklim. Ya, ini akibat ulah manusia. Ya, kita punya solusinya. Tapi tidak, kita belum menerapkannya dengan baik.”

Pada Oktober 2025 lalu, para ahli kesehatan juga memperingatkan bahwa kenaikan suhu global kini menyebabkan satu orang meninggal setiap menit di seluruh dunia.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags