Schisandra Chinensis, Buah Lima Rasa yang Kini Diteliti Ilmuwan Modern

- Sabtu, 27 Juni 2026 | 21:06 WIB
Schisandra Chinensis, Buah Lima Rasa yang Kini Diteliti Ilmuwan Modern

Buah kecil dari pegunungan Tiongkok yang telah digunakan sejak Dinasti Han lebih dari 2.000 tahun lalu kini mulai menarik perhatian serius para ilmuwan modern. Namanya Schisandra chinensis, dikenal dalam pengobatan tradisional Tiongkok sebagai wu wei zi atau buah lima rasa karena menyatukan rasa manis, asam, asin, pahit, dan pedas dalam satu buah kecil. Namun, yang lebih menarik dari rasanya adalah apa yang terjadi di dalam tubuh saat mengonsumsinya.

Penggunaan obat tanaman ini tercatat sejak Dinasti Han Timur tahun 25 hingga 220 Masehi dalam Shennong Bencao Jing, di mana ia didokumentasikan memiliki sifat astringen, menguatkan qi (energi vital tubuh), menghasilkan cairan tubuh, menutrisi ginjal, dan menenangkan jantung. Kini, fokus penelitian diarahkan pada dampaknya terhadap sistem imun, fungsi hati, regulasi hormonal, dan sifat antioksidannya.

Pelindung Hati yang Sudah Dibuktikan

Dari semua klaim tentang Schisandra chinensis, perlindungan terhadap hati adalah yang paling kuat bukti ilmiahnya. Lignan aktif dalam tanaman ini, termasuk schisandrin dan gomisins, telah menunjukkan sifat antiinflamasi, antioksidan, dan hepatoprotektif dalam berbagai studi awal. Dengan meningkatnya angka penyakit hati kronis secara global, minat terhadap peran terapeutik potensial Schisandra chinensis semakin besar.

Penelitian terbaru mengkonfirmasi bahwa gomisin N secara signifikan menurunkan kadar TNF-alfa, IL-6, dan IL-1 beta dalam model tikus dengan peradangan hati. Selain itu, ekstrak etanol biji Schisandra chinensis terbukti menghambat aktivasi sel stelat hepatik, yang merupakan pemain kunci dalam perkembangan fibrosis hati kondisi serius yang bisa berkembang menjadi sirosis. Fakta bahwa Schisandra chinensis menunjukkan potensi menghambat proses ini menjadikannya objek penelitian yang sangat relevan.

Adaptogen yang Bekerja di Otak

Selain hati, tanaman ini memiliki jalur kerja yang menarik di sistem saraf. Schisandra chinensis dikenal karena sifat adaptogeniknya yang unik. Secara tradisional, ia digunakan untuk meningkatkan performa fisik, melawan stres, meningkatkan fungsi mental, dan mendukung kesehatan hati. Penelitian farmakologi modern mengungkapkan bahwa Schisandra chinensis memiliki sifat antiinflamasi, imunomodulatori, antitusif, dan antiastmatik, sehingga bernilai klinis dalam menangani gangguan sistem saraf pusat, sistem kardiovaskular, sistem pencernaan, dan sistem endokrin.

Dalam studi tentang Alzheimer, schisandrin B lignan utama dalam tanaman ini menunjukkan efek neuroprotektif terhadap neuron yang rusak akibat protein amiloid. Meski masih dalam tahap awal penelitian, arahnya menjanjikan.

Satu Tanaman, Banyak Mekanisme

Yang membuat Schisandra chinensis menarik secara ilmiah adalah cara kerjanya yang tidak tunggal. Tanaman ini mengandung berbagai senyawa bioaktif dengan aktivitas biologis signifikan, termasuk lignan, flavonoid, asam fenolik, triterpenoid, asam organik, dan minyak esensial. Berbeda dari obat sintetis yang biasanya menarget satu jalur biologis saja, Schisandra chinensis bekerja melalui beberapa mekanisme sekaligus: antioksidan, antiinflamasi, adaptogenik, dan hepatoprotektif. Inilah yang membuat tanaman ini begitu menarik sekaligus kompleks untuk diteliti.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags