Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa persatuan di kalangan elite nasional menjadi faktor penentu kemajuan suatu negara. Pernyataan itu disampaikannya saat membuka Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi dan Industri (KSTI) Indonesia 2026 di Jakarta, Jumat (26/6/2026). Acara tersebut dihadiri lebih dari 2.600 peserta, termasuk 219 rektor dan ratusan guru besar dari seluruh Indonesia.
"Bangsa yang elitnya bisa bekerja sama, itulah bangsa yang bangkit. Bangsa yang elitnya selalu tidak bisa bekerja sama, bangsa itu tidak bisa mencapai potensinya," ujar Prabowo di hadapan para akademisi, peneliti, dan pemangku kepentingan nasional.
Presiden mengingatkan bahwa konflik dan kegaduhan pascapemilu hanya akan membuang energi bangsa. Ia mengakui pernah empat kali kalah dalam pemilihan presiden, namun memilih tidak mengganggu jalannya pemerintahan yang sah. Baginya, demokrasi mengharuskan semua pihak menghormati mandat rakyat dan fokus pada upaya menyejahterakan rakyat, khususnya yang paling miskin dan lemah.
"Kapan kita mau menuju kesejahteraan untuk rakyat kita? Segala kepintaran kita harus kita abdikan untuk rakyat kita yang paling miskin dan paling lemah," kata Prabowo.
Kampus sebagai Mitra Strategis
Dalam forum bertema Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia itu, Prabowo menekankan peran sentral perguruan tinggi dalam pembangunan nasional. Menurutnya, setiap kemajuan peradaban manusia selalu bersumber dari pemikir-pemikir terbaik suatu bangsa.
"Saya selalu berpendapat bahwa para guru besar adalah orang-orang terpintar dari sebuah negara. Kalau negara mau bangkit dan maju, memang harus digerakkan potensi dan kemampuan dari kampus-kampus dan universitas," ujarnya.
Ia juga menyebut bahwa secara konsisten menempatkan para profesor dalam posisi-posisi strategis di kabinet sebagai wujud nyata komitmen pemerintah terhadap pembangunan berbasis ilmu pengetahuan.
Swasembada Pangan dan Energi, Harga Mati
Prabowo menegaskan dua pilar utama kemandirian bangsa yang tidak bisa ditawar: swasembada pangan dan swasembada energi. Ia mempertanyakan mengapa Indonesia, setelah 81 tahun merdeka, masih bergantung pada impor gandum, serta mengapa produktivitas kelapa sawit nasional masih tertinggal dari Malaysia.
"Bangsa Indonesia harus mandiri. Bangsa Indonesia harus berdiri di atas kaki sendiri. Elemen utamanya adalah swasembada pangan dan swasembada energi," tegasnya.
Salah satu momen yang mendapat respons hangat dari hadirin adalah ketika Prabowo bercerita tentang mobil buatan Indonesia yang ia tumpangi saat pulang dari pelantikannya. Ia mengakui kendaraan tersebut belum sempurna, bahkan sempat bocor saat hujan deras, namun hal itu tidak menghalangi semangatnya.
"Tidak apa-apa, minimal kita mulai. Kita harus berani mulai. Kita adalah negara keempat terbesar di dunia dengan kekayaan yang luar biasa," ujarnya disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.
Presiden menutup sambutan dengan mengundang para wartawan meninggalkan ruangan, karena ia ingin menyampaikan data dan fakta secara langsung kepada para ilmuwan untuk dikaji secara saintifik, dan mendorong mereka untuk menarik kesimpulan serta merumuskan rekomendasi kebijakan bagi kemajuan Indonesia.
"Kita berada di jalan yang benar, di jalan membela keadilan, di jalan memberantas kemiskinan, di jalan menghilangkan kelaparan. Kita berada di jalan yang diridhai oleh Tuhan Yang Maha Kuasa," pungkas Prabowo.
Artikel Terkait
Pramono Pastikan Pembangunan RS Sumber Waras dan Tiga PLTSa Segera Dimulai
Survei Puspoll: Kepuasan Publik terhadap Prabowo 64,8%, Tren Menurun
Pramono Anung Lanjutkan Normalisasi Sungai untuk Kurangi Risiko Banjir Jakarta
Anak, Korban Tak Terlihat dalam Perceraian yang Haknya Sering Terabaikan