Alumnus UGM Sukses Kembangkan Peternakan Modern di Desa, Omzet Capai Ratusan Juta

- Senin, 29 Juni 2026 | 10:54 WIB
Alumnus UGM Sukses Kembangkan Peternakan Modern di Desa, Omzet Capai Ratusan Juta

Mila Arlinda (28) memilih pulang kampung ke Desa Kebonagung, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, untuk membangun usaha peternakan kambing dan domba. Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) angkatan 2020 itu kini mengembangkan peternakan modern bersama suaminya, dengan omzet mencapai ratusan juta rupiah.

"Dulu keluarga sempat ragu ketika saya memilih kuliah peternakan," kata Mila dalam keterangan tertulis, Senin (29/6).

Ketertarikan Mila pada dunia peternakan sudah muncul sejak SMA. Pada 2014, saat kelas XI, ia mulai memelihara lima ekor domba di kandang sederhana. Pengalaman itu mengantarkannya memilih kuliah di Fapet UGM. Setelah lulus pada 2020, ia fokus mengembangkan usaha ternak.

Ilmu yang diperoleh selama kuliah langsung diterapkan. "Di Fapet UGM kami diajarkan bukan hanya teori, tetapi juga praktik dan pengalaman lapangan. Itu yang sangat membantu ketika benar-benar terjun ke dunia usaha," katanya. Selama kuliah, Mila juga aktif belajar dari dosen, praktisi, hingga peternak senior di berbagai daerah. "Teori itu penting, tapi tidak cukup. Harus turun langsung ke lapangan," ujarnya.

Perjalanan usaha tidak selalu mulus. Mila sempat kehilangan sejumlah ternak akibat penyakit. Pengalaman itu menjadi pelajaran berharga untuk memperbaiki manajemen kesehatan ternak. Ia kini lebih memahami penyakit yang kerap menyerang kambing dan domba, seperti pneumonia akibat perubahan suhu. Selain menjaga kesehatan, Mila juga serius mengelola pakan. Ia memiliki lahan hijauan seluas 1,5 hektare dan memanfaatkan pakan tambahan seperti ampas tahu serta kangkung kering. Berbeda dengan sebagian peternak yang mengejar jumlah populasi, Mila lebih fokus pada peningkatan kualitas dan genetika ternak.

Bersama suami, Sahroni, Mila mengembangkan usaha bernama Kerabat Ternak 1-3. Usahanya tidak hanya penggemukan, tetapi juga pembibitan, peternakan perah, hingga penjualan sarana produksi peternakan (sapronak). Kambing unggulan hasil ternaknya dijual dengan harga Rp16 juta hingga Rp23 juta per ekor, sementara kambing lokal Rp3 juta sampai Rp5 juta. Puncak penjualan terjadi saat Idul Adha. Pada 2024, omzet usaha mencapai Rp500 juta hingga Rp700 juta. Di luar musim kurban, usaha akikah, penjualan bibit, susu, dan sapronak menghasilkan omzet sekitar Rp50 juta per bulan, sementara bisnis sapronak menyumbang Rp75 juta.

Sejak 2023, Mila aktif membagikan edukasi seputar peternakan melalui media sosial, terutama TikTok. Lewat kontennya, ia ingin menunjukkan bahwa peternakan modern membutuhkan ilmu pengetahuan dan pengalaman lapangan. Usahanya juga memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. Selain mempekerjakan dua karyawan, Mila membina kelompok peternak di wilayahnya. "Saya jadi tidak bingung soal penjualan susu. Selain itu juga bisa belajar banyak di kelompok ternak dan di Kerabat Ternak," kata Erma, anggota kelompok binaan Mila. Hal serupa dirasakan Agung Setiawan, siswa PKL dari SMK Negeri 4 Bojonegoro. "Banyak ilmu yang saya peroleh selama PKL di sini," ujar Agung.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags