Kemkomdigi Selidiki Dugaan Penyalahgunaan AI Grok untuk Konten Asusila

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 18:06 WIB
Kemkomdigi Selidiki Dugaan Penyalahgunaan AI Grok untuk Konten Asusila

Belum lagi fenomena echo chamber. Kita dikurung dalam ruang gema yang memperkuat pandangan kita sendiri, sekaligus mempersempit peluang dialog dengan yang berbeda. Perbedaan dilihat sebagai ancaman, bukan peluang belajar.

Deepfake memperparah semua ini. Bukti visual foto dan video yang dulu jadi penopang kebenaran, kini jadi alat manipulasi paling canggih. Batas antara fakta dan rekayasa kabur. Publik bukan cuma bingung membedakan mana yang benar, tapi mulai meragukan semuanya. Kepercayaan pun terkikis, perlahan tapi pasti.

Akibatnya? Muncul sinisme dan kelelahan kolektif. Ketika semua bisa dimanipulasi, warga cenderung menarik diri atau jadi semakin reaktif. Demokrasi menghadapi ancaman baru: bukan dari pembungkaman, tapi dari kebisingan yang membuat setiap suara kehilangan makna.

Ilmu Komunikasi di Titik Persimpangan

Situasi ini menempatkan ilmu komunikasi pada ujian yang serius. Pendekatan linear pengirim, pesan, penerima sudah nggak memadai lagi. Komunikasi sekarang berlangsung dalam ekosistem yang ruwet: ada AI, regulasi, kepentingan platform global, emosi massa, dan kesadaran etis yang belum merata.

Pesan tidak berdiri sendiri. Ia diproduksi, dimodifikasi, dan disebarkan oleh sistem algoritmik yang bekerja di luar kendali kita. Publik adalah penerima, sekaligus produsen, distributor, dan bahkan korban. Ilmu komunikasi dituntut untuk memperluas fokusnya. Bukan cuma pada efektivitas pesan, tapi pada dampak sosial dan kemanusiaannya.

Langkah Kemkomdigi yang menegaskan bahwa ruang digital bukan wilayah tanpa hukum adalah sinyal penting. Regulasi bukan penghambat inovasi, tapi instrumen perlindungan. Bagi ilmu komunikasi, ini panggilan reflektif sekaligus normatif. Disiplin ini dituntut untuk menilai, mengkritisi, dan memberi arah: teknologi seperti apa yang patut dikembangkan, batas apa yang tak boleh dilanggar.

Di sinilah relevansi ilmu komunikasi yang paling mendasar terletak sebagai kompas etis di dunia digital yang semakin cepat dan rawan kehilangan arah.

Menjadi Manusia di Tengah Mesin

Pada akhirnya, ambivalensi media sosial dan AI adalah cermin dari ambivalensi kita sendiri. Teknologi memperbesar apa yang sudah ada dalam diri manusia: kemampuan untuk mencipta dan berempati, sekaligus potensi untuk melukai dan mengeksploitasi.

Solusinya nggak bisa berhenti pada teknologi atau regulasi yang lebih ketat. Keduanya penting, tapi tidak cukup. Yang lebih mendasar adalah membangun kedewasaan komunikasi kolektif. Kemampuan untuk menahan diri, menghormati martabat orang lain, dan menyadari bahwa tidak semua yang mungkin dilakukan secara teknis, layak dilakukan secara etis.

Di ruang digital yang serba instan, kemampuan untuk berhenti sejenak memeriksa fakta, mempertimbangkan dampak, merasakan posisi orang lain menjadi keterampilan sosial yang langka. Justru di situlah kemanusiaan kita diuji: ketika teknologi memberi kekuasaan besar, tapi tanpa menyediakan jeda untuk refleksi.

Tantangan terbesarnya sebenarnya sederhana, tapi mendasar: bagaimana tetap manusiawi. Bagaimana memastikan kemajuan tidak menggerus empati, dan inovasi tidak mengorbankan martabat.

Masa depan komunikasi digital nggak cuma ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tapi oleh nilai apa yang kita pilih untuk dijaga. AI dan algoritma akan terus berevolusi lebih cepat, lebih pintar. Tapi tanpa kesadaran etis, semua kemajuan itu justru berisiko menjauhkan kita dari inti kemanusiaan kita sendiri.

Ruang digital adalah cermin kolektif. Ia memantulkan siapa kita, dan bagaimana kita memperlakukan sesama. Ketika privasi diabaikan dan nalar dikalahkan sensasi, yang terancam adalah kualitas kehidupan bersama kita.

Pilihannya ada di tangan kita. Mau biarkan teknologi yang menentukan nilai, atau kita yang menempatkan nilai sebagai penuntun teknologi? Mau rawat ruang digital sebagai tempat dialog yang beradab, atau biarkan ia jadi arena kebisingan yang saling melukai?

Menjadi manusia di era kecerdasan buatan butuh keberanian moral. Keberanian untuk berhenti, berpikir lebih dalam, dan menegaskan bahwa kemajuan sejati diukur dari sejauh mana ia masih menghormati martabat manusia. Dan di sanalah masa depan kita ditentukan.


Halaman:

Komentar