Racun Digital Menyelinap di Balik Layar Ponsel: Perlukah Kita Pasang Bodyguard untuk Gawai?

- Rabu, 28 Januari 2026 | 12:18 WIB
Racun Digital Menyelinap di Balik Layar Ponsel: Perlukah Kita Pasang Bodyguard untuk Gawai?

Ponsel di saku kita sekarang ini jauh lebih dari sekadar alat telepon. Ia adalah dompet, album foto, arsip percakapan, dan penyimpan rahasia hidup kita. Kita bergantung padanya untuk hampir segalanya. Tapi pernahkah kita benar-benar memastikan, apakah "pintu" ke dunia digital kita itu terkunci dengan baik?

Menurut Muhammad Rasyid Sahputra dari ITSEC Asia, ancaman di dunia maya justru makin senyap dan berbahaya di balik kenyamanan yang ditawarkan internet. Dunia online yang kita anggap bersahabat, katanya, telah berubah menjadi ruang penuh jebakan.

“Inilah racun digital. Mereka tidak mengetuk pintu, tapi langsung masuk,”

ungkap Rasyid dalam sebuah acara di Jakarta belum lama ini.

Contoh nyatanya? Malware seperti 'Klopatra' bisa menguras rekening bank korban hanya dalam hitungan menit, diam-diam, tanpa disadari sama sekali. Dan pintu masuk utamanya seringkali adalah smartphone kita sendiri. Bayangkan, semua aktivitas vital transaksi bank, belanja, bahkan konsultasi kesehatan beralih ke genggaman tangan. Jika perangkat itu bobol, maka habislah sudah. Data pribadi kita bisa lenyap dalam sekejap.

Namun begitu, bahayanya tidak cuma berujung pada urusan finansial. Bagi orang tua, kekhawatirannya justru lebih mendalam. Rasyid menyoroti bagaimana judi online, konten pornografi, hingga iklan yang tidak pantas dengan mudahnya menyelinap ke gawai anak-anak. Kadang, ancaman itu bersembunyi di balik game yang tampaknya biasa dan aman.

Masalah besarnya, semua ancaman ini tidak kasat mata. Banyak orang masih menganggap pencurian data sebagai sesuatu yang abstrak, terjadi di 'awan-awan' sana. Padahal, serangan itu nyata dan terjadi secara masif setiap harinya.

Yang lebih parah, kebocoran data sering terjadi tanpa kita sadari. Coba ingat saat ponsel kita dipinjam anak untuk main game. Siapa sangka, game gratis yang diunduh sembarangan itu bisa jadi membawa malware. Dalam hitungan detik, akses ke sistem kantor atau data sensitif pekerjaan sang ayah bisa berpindah tangan.

“Banyak yang berpikir, ‘data saya cuma segitu, saya bukan siapa-siapa’. Padahal ini bisa jadi gerbang pertama bagi hacker untuk melakukan aksi kejahatan yang lebih besar,”

tegas Rasyid. Ia mencontohkan kasus yang kini marak: seseorang bisa kehilangan semua tabungannya hanya gara-gara mengklik satu tautan APK berbahaya.


Halaman:

Komentar