Ancaman Donald Trump terdengar keras dan jelas. Mantan Presiden AS itu mengancam akan menghantam infrastruktur minyak di Pulau Kharg, Iran, jika Teheran tak menghentikan blokade kapal-kapal di Selat Hormuz. Ancaman itu menggantung di tengah ketegangan yang sudah memuncak. Namun begitu, kabar terbaru justru datang dengan syarat yang tak biasa: Iran dikabarkan mau membuka jalan bagi kapal tanker, asal transaksinya pakai yuan China.
Seorang pejabat senior, seperti dilansir CNN, mengungkapkan bahwa Iran sedang mempertimbangkan izin untuk sejumlah kecil tanker. Syaratnya, minyak di kapal-kapal itu harus diperdagangkan dalam mata uang China. Langkah ini jadi bagian dari rencana baru Teheran untuk mengatur lalu lintas tanker di selat yang sempit dan vital itu. Sebuah manuver finansial di tengah konflik bersenjata.
Selama ini, minyak internasional hampir selalu diperdagangkan dengan dolar AS. Pengecualian mungkin hanya untuk minyak Rusia yang kena sanksi, yang kadang pakai rubel atau yuan. Nah, kekhawatiran pasar akan situasi di Selat Hormuz ini sudah mendongkrak harga minyak. Harganya melonjak ke level tertinggi sejak pertengahan 2022. Suasana mencekam, dan pasar bereaksi.
Di sisi lain, PBB angkat bicara. Mereka memperingatkan dampak besar dari pembatasan di selat itu terhadap upaya kemanusiaan, di saat perang masih berkecamuk.
“Kalau kapal-kapal berhenti bergerak lewat selat itu, dampaknya akan cepat menyebar,” kata Tom Fletcher, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan.
“Bahan makanan, obat-obatan, pupuk, dan berbagai pasokan lainnya jadi lebih sulit diangkut. Harganya pun otomatis melambung,” tambahnya.
Perang ini sendiri berawal dari serangan Israel dan AS pada akhir Februari 2026. Serangan gabungan itu disebut-sebut menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran saat itu. Iran pun tak tinggal diam. Mereka membalas dengan menyerang Israel dan pangkalan-pangkalan AS di kawasan Teluk, lalu menutup Selat Hormuz. Sebelum kabar soal yuan ini beredar, Teheran sempat mengeluarkan syarat lain: kapal minyak boleh lewat jika negara asalnya mengusir duta besar AS dan Israel. Situasinya rumit, dan setiap hari bisa muncul aturan baru.
Artikel Terkait
Penyematan Jaket PSI ke Jokowi Dinilai Sekadar Formalitas Perpisahan dengan PDIP
326 Kepala Sekolah di Sulsel Ancam Mundur Massal Imbas Temuan BPK soal Dana BOS
BPBD DIY: Status Siaga Merapi Bukan Sekadar Label, Ancaman Lava dan Awan Panas Masih Nyata
Polisi Bantah Tabrak Lari, Pengejaran Fortuner di Ciledug Bagian dari Operasi Narkoba