AS Klaim Lumpuhkan Titik Strategis Iran di Pulau Kharg, Hindari Fasilitas Energi Kritis

- Minggu, 15 Maret 2026 | 09:45 WIB
AS Klaim Lumpuhkan Titik Strategis Iran di Pulau Kharg, Hindari Fasilitas Energi Kritis

Washington DC – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Kali ini, Presiden Donald Trump mengklaim bahwa militer AS telah berhasil melumpuhkan titik strategis di Pulau Kharg. Meski begitu, dia menegaskan bahwa serangan itu sengaja menghindari infrastruktur energi kritis.

“Kami sudah lumpuhkan total tempat itu,” ujar Trump dalam wawancara dengan NBC News, Minggu (15/3/2026).

“Tapi, jalur energinya tidak saya sentuh. Soalnya, kalau sampai hancur, butuh waktu bertahun-tahun untuk membangunnya kembali,” tambahnya.

Pernyataan itu sekaligus menjadi sinyal bahwa Gedung Putih belum punya niat buru-buru berunding dengan Teheran. Strategi tekanan maksimum tampaknya masih akan terus berjalan.

Di sisi lain, operasi ini dianggap punya dua tujuan. Pertama, tentu saja untuk melemahkan posisi militer Iran. Yang kedua, dan ini cukup penting, adalah menghindari gejolak pasar minyak dunia. Dengan tidak menyentuh fasilitas distribusi utama di Kharg, Washington berharap harga minyak global tidak melonjak tak terkendali.

Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Iran sendiri belum memberikan tanggapan resmi soal klaim kerusakan yang disebut-sebut Trump.

Selain soal operasi militer, Trump juga kembali mendorong sekutu-sekutu AS. Dia menyerukan agar mereka lebih aktif menjaga keamanan Selat Hormuz – selat sempit yang jadi jalur vital ekspor minyak dunia dan sering jadi sumber ketegangan.

Seruan ini bukan kali pertama. Tapi dalam situasi sekarang, tekanan untuk berbagi beban keamanan di kawasan itu terdengar lebih mendesak. Para pengamat melihat ini sebagai bagian dari upaya mengisolasi Iran tanpa harus menanggung semua risiko dan biayanya sendirian.

Jadi, apa yang terjadi di Pulau Kharg mungkin bukan akhir dari cerita. Ini lebih seperti babak baru dalam perseteruan panjang yang, untuk sekarang, masih lebih mengandalkan kekuatan ketimbang diplomasi.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar