Cuaca ekstrem. Itu selalu jadi kalimat pembuka kita setiap kali bencana datang. Kedengarannya wajar, ilmiah bahkan. Tapi justru di situlah akar persoalannya. Persoalannya bukan cuma seberapa kencang angin atau seberapa lebat hujan saat siklon tropis makin sering muncul di sekitar Indonesia. Yang jauh lebih penting adalah: seberapa siap cara pikir kita menghadapi perubahan iklim yang sudah tak kenal batas-batas lama.
Selama ini, bencana selalu dilihat sebagai sesuatu yang datang tiba-tiba. Sebuah kejutan dari alam. Siklon dianggap anomali, hujan deras disebut kejutan musiman. Padahal, di tengah iklim yang terus berubah, cara pandang seperti itu malah bikin kita selalu ketinggalan. Fenomena alam tak berubah jadi bencana cuma karena kekuatannya. Ia jadi bencana karena kita gagal mengantisipasi dampaknya secara sosial, tata ruang, dan kebijakan.
Kita sering menyebut siklon tropis sebagai bencana alam. Padahal, siklon itu sendiri sebenarnya fenomena fisik yang netral. Ia baru berubah jadi malapetaka saat bertemu dengan masyarakat yang tak siap, tata ruang yang amburadul, dan kebijakan yang terlepas dari ilmu pengetahuan. Karena itu, sebenarnya siklon lebih tepat disebut sebagai bencana pengetahuan. Akumulasi dari kegagalan kita membaca tanda, menghubungkan data, dan mengubah sains jadi keputusan nyata.
Puluhan tahun lamanya, Indonesia hidup tenang dengan satu asumsi besar: kita aman dari siklon karena letaknya dekat ekuator. Asumsi ini dulu masuk akal secara klimatologi, tapi jadi berbahaya ketika berubah jadi dogma. Perubahan iklim global sudah mengacak-acak banyak batasan yang dulu kita anggap pasti. Suhu laut naik, energi atmosfer bertambah, sistem cuaca makin tak menentu. Berpegang pada asumsi lama di tengah situasi baru ini? Itu namanya kelalaian kolektif.
Data sebenarnya ada. Kapasitas observasi cuaca kita juga terus berkembang. Bibit siklon dipantau, peringatan dini dikeluarkan. Tapi seringkali, pengetahuan itu mentok di laporan. Ia tak jadi dasar untuk mengubah kebijakan secara nyata. Informasi cuaca ekstrem jarang benar-benar dipakai untuk menata ulang ruang, mengelola daerah aliran sungai, atau mengevaluasi izin lahan. Sains jalan sendiri, kebijakan jalan sendiri. Masyarakat di tengah yang akhirnya menanggung semua risiko.
Bencana terlalu sering kita lihat sebagai peristiwa, bukan proses. Banjir disebut musiman, longsor dianggap musibah, siklon dilihat sebagai kejadian langka. Padahal, semua itu adalah puncak dari proses panjang: penggundulan hutan yang bikin tanah tak bisa serap air, urbanisasi yang mengabaikan daya dukung lingkungan, sungai yang dipersempit, dan wilayah rawan yang dipaksa menampung aktivitas manusia. Saat hujan ekstrem atau siklon datang, ia cuma membuka borok yang sudah lama menganga.
Menurut sejumlah pakar, sekat antar disiplin ilmu juga masih terlalu tebal. Meteorolog bicara peta dan model, perencana wilayah bicara zonasi, ekonom bicara angka pertumbuhan. Kebijakan publik punya dunianya sendiri. Jarang sekali semua pengetahuan ini duduk dalam satu meja yang sama. Akibatnya, peringatan dini cuma jadi informasi sesaat. Ia tak pernah jadi pijakan untuk perubahan yang lebih struktural.
Kemunculan siklon di sekitar kita seperti Siklon Tropis Bakung harusnya jadi cermin. Bukan cuma soal kecepatan angin atau lintasannya, tapi lebih pada kesiapan kita berpikir lintas batas. Sudahkah informasi iklim jadi fondasi pembangunan? Atau jangan-jangan, kampus dan pusat riset cuma berhenti pada publikasi, tanpa pernah menerjemahkan sains itu untuk pengambil kebijakan dan masyarakat luas?
Perubahan iklim itu jarang datang dengan gebrakan dramatis. Ia lebih sering menggerogoti asumsi-asumsi kita pelan-pelan. Ketika siklon makin mendekati wilayah yang dulu dianggap aman, sebenarnya yang sedang diuji bukanlah alam. Melainkan cara kita memahami risiko. Di dunia yang batas iklimnya makin kabur, bertahan hidup bukan soal mengandalkan kekuatan alam. Tapi soal ketepatan pengetahuan dan keberanian untuk mengubah pola pikir.
Kalau siklon terus kita pahami semata sebagai bencana alam, maka siklusnya akan selalu sama: panik, bantuan darurat, lalu... lupa. Tapi kalau kita berani melihatnya sebagai bencana pengetahuan, pertanyaannya berubah. Pengetahuan apa yang gagal kita gunakan? Sistem apa yang harus dibenahi? Dari situlah pembelajaran sesungguhnya harus dimulai bukan menunggu bencana berikutnya, tapi dengan mengakui kesalahan kita hari ini.
Artikel Terkait
Cara Nonaktifkan Suara Jepretan Kamera iPhone Sesuai Model
Domain AI.com Terjual Rp1,1 Triliun, Pecahkan Rekor Termahal Sepanjang Sejarah
Koktail Berasap Berujung Tragis, Lambung Pria Ini Pecah Usai Teguk Nitrogen Cair
Petrichor: Aroma Hujan yang Menenangkan Pikiran dan Mengembalikan Keseimbangan