Sistem Pensiun Bayar Langsung: Tradisi Terhormat yang Mulai Ditinggalkan Zaman

- Kamis, 25 Desember 2025 | 14:24 WIB
Sistem Pensiun Bayar Langsung: Tradisi Terhormat yang Mulai Ditinggalkan Zaman

Sejarah punya caranya sendiri untuk menguji sebuah sistem. Ada yang bertahan, ada pula yang perlahan ditinggalkan. Bukan karena sistem itu gagal total, tapi seringkali karena dunia yang melahirkannya sudah bergerak terlalu jauh. Zaman berubah.

Ambil contoh sistem pensiun bayar langsung. Selama puluhan tahun, skema ini jadi penopang. Ia memberikan rasa aman bagi jutaan pensiunan di berbagai penjuru dunia, sekaligus menjadi fondasi kepercayaan antara negara dan para aparaturnya. Sistem ini membayar manfaat pensiun langsung dari anggaran negara tahun itu juga sederhana, langsung.

Tapi lihatlah sekarang. Semakin banyak negara yang mengambil langkah berani untuk meninggalkannya. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?

Dulu, Sistem Ini Tampak Sempurna

Logikanya sederhana sekali. Generasi yang masih aktif bekerja membiayai mereka yang sudah pensiun. Negara bertindak sebagai penjamin utama, dan kepercayaan publik menjadi bahan bakar utamanya. Sistem ini berjalan mulus di eranya.

Kapan? Yaitu saat jumlah penduduk muda masih melimpah, usia hidup tidak terlalu panjang, dan ekonomi tumbuh dengan stabil. Pasca perang, sistem ini lebih dari sekadar skema teknis. Ia adalah simbol nyata kehadiran negara dalam kehidupan para pegawainya. Patut dihormati.

Namun begitu, abad ke-21 datang dengan wajah yang sama sekali berbeda. Semuanya berubah dengan cepat, mungkin terlalu cepat untuk sistem lama ini bisa mengejar.

Tekanan yang Tak Terbendung

Faktanya sekarang: manusia hidup lebih lama, angka kelahiran merosot, populasi menua dengan laju mengkhawatirkan. Struktur pekerjaan jadi cair, dan guncangan ekonomi global seperti jadi menu rutin.

Dalam kondisi seperti ini, sistem bayar langsung mulai terengah-engah. Jumlah pembayar (pekerja aktif) menyusut, sementara penerima manfaat justru membengkak. Rentang waktu pembayaran pun jadi lebih panjang. Ini bukan cuma soal mengatur anggaran, ini sudah menyentuh urusan ketahanan fiskal negara.

Akibatnya bisa ditebak. Di banyak tempat, sistem yang mulanya jadi alat perlindungan berubah jadi sumber masalah serius.

Beban yang Berubah Jadi Bom Waktu

Belanja pensiun melonjak, seringkali lebih cepat ketimbang pertumbuhan penerimaan negara. Defisit melebar. Ruang untuk belanja pembangunan jadi sempit, terpaksa dikerutkan. Tak jarang, utang negara membengkak hanya untuk menutupi kewajiban sosial ini.

Saat terdesak, pilihan yang tersisa biasanya tak populer: naikkan usia pensiun, potong manfaat, tunda pembayaran, atau naikkan iuran. Pilihan-pilihan pahit ini hampir selalu memicu gejolak. Dari sini, dunia belajar satu hal penting.

Lalu, mengapa negara-negara itu mulai banting setir?

Alasan di Balik Peralihan

Pergeseran ke sistem berbasis dana bukan sekadar ikut tren. Ada tiga kesadaran kunci yang mendorongnya.

Pertama, kewajiban jangka panjang mustahil dibiayai dengan logika jangka pendek. Mengandalkan anggaran tahunan untuk membayar pensiun puluhan tahun ke depan itu terlalu riskan.

Kedua, risiko demografi harus dibagi, bukan ditumpuk ke satu generasi. Tidak adil jika beban masa depan hanya dipikul oleh generasi muda saat ini.

Ketiga, kepercayaan butuh dana nyata, bukan cuma janji. Janji politik itu abstrak. Tapi dana yang terkumpul dan dikelola dengan baik itu memberikan kepastian.

Nah, di sisi lain, perubahan ini sering disalahtafsirkan. Banyak yang bilang negara kabur dari tanggung jawab. Padahal, kenyataannya justru sebaliknya.

Memperkuat Peran, Bukan Melemahkannya

Negara sama sekali tidak lepas tangan. Mereka hanya mengubah cara bertanggung jawab. Dari yang bersifat reaktif membayar saat tagihan datang menjadi proaktif, yaitu menyiapkan dana dari jauh-jauh hari. Dari bergantung pada kas tahunan yang fluktuatif, beralih ke membangun fondasi fiskal yang kokoh untuk jangka panjang.

Pada akhirnya, sistem pensiun modern bertumpu pada tiga pilar utama: dana yang nyata dan terpisah dari anggaran rutin, pengelolaan yang profesional dan hati-hati, serta transparansi yang memungkinkan pengawasan publik.

Dengan model seperti ini, pensiun tidak lagi dilihat sebagai 'biaya' yang memberatkan. Ia berubah menjadi aset jangka panjang, alat stabilitas sosial, dan penopang martabat negara di mata para pelayannya.

Indonesia di Persimpangan yang Sama

Kita tidak sendiri. Indonesia sekarang berada di titik yang persis seperti yang pernah dilewati banyak negara lain. Bonus demografi masih ada, tekanan fiskal masih bisa dikelola, tapi tanda-tanda pergeseran sudah jelas terpampang. Jumlah pensiunan akan terus naik.

Ini justru fase yang sangat berharga. Saatnya bertindak sebelum terlambat.

Meninggalkan Bukan Melupakan

Meninggalkan sistem lama bukan berarti melupakan jasanya. Justru ini adalah upaya untuk memastikan bahwa nilai-nilai intinya perlindungan, kepastian, keadilan tidak ikut hancur diterpa beban zaman.

Yang ditinggalkan adalah caranya.
Yang dipertahankan adalah martabatnya.

Akhir Kata

Pertanyaan mendasarnya bukan tentang ikut-ikutan dunia. Tapi, apakah kita bisa membaca zaman? Sistem pensiun bayar langsung adalah bagian terhormat dari sejarah. Tapi abad ini menuntut keberanian baru.

Bangsa besar seperti Indonesia semestinya paham. Kapan harus berpegang pada tradisi, dan kapan harus menumbuhkan tradisi itu agar tetap relevan untuk anak cucu nanti.


Artikel ini merupakan bagian dari gagasan dan pemikiran untuk menggugah kesadaran literasi publik. Gunakan secara bijak.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar