Ancaman pemblokiran total kini menggantung di atas WhatsApp di Rusia. Regulator komunikasi negara itu, Roskomnadzor, tak lagi main-main. Mereka menyatakan siap mematikan akses aplikasi pesan instan milik Meta itu jika tetap bandel dan tak mau tunduk pada aturan lokal.
Peringatan keras ini dilayangkan pada Jumat lalu, menurut laporan Reuters. Sebenarnya, ketegangan ini sudah berlangsung sejak Agustus. Awalnya, pemerintah Rusia mulai membatasi fitur panggilan di WhatsApp dan Telegram. Tuduhannya klasik: platform asing itu dianggap enggan berbagi data dengan penegak hukum, khususnya untuk kasus-kasus seperti penipuan atau terorisme.
Nah, sekarang tuntutannya lebih spesifik. Roskomnadzor menilai WhatsApp gagal memenuhi persyaratan Rusia yang dirancang untuk memerangi kejahatan. Intinya, mereka menuntut kepatuhan penuh.
"Jika layanan pesan ini terus gagal memenuhi tuntutan perundang-undangan Rusia, maka akan diblokir sepenuhnya,"
Begitu bunyi pernyataan resmi mereka yang dikutip Interfax. Ancaman itu jelas dan terang.
WhatsApp Berulah, MAX Merangkak Naik
Di sisi lain, WhatsApp tak tinggal diam. Mereka balas menuduh langkah Moskow sebagai upaya memblokir akses jutaan orang terhadap komunikasi yang aman dan terenkripsi. Perlawanan ini wajar, mengingat posisi mereka sebagai raksasa pesan instan di sana.
Namun begitu, pemerintah Rusia punya kartu lain. Sambil mengancam, mereka gencar mempromosikan aplikasi pesan tandingan yang didukung negara, bernama MAX. Aplikasi ini diluncurkan awal 2025 dan digadang-gadang sebagai platform aman untuk institusi pendidikan dan pemerintah. Bahkan, semua ponsel dan komputer yang dijual di Rusia sekarang sudah wajib memaketkan MAX secara bawaan.
Tapi jalan MAX tidak mulus. Banyak yang curiga. Kritikus menyebut aplikasi ini bisa jadi alat pelacak bagi pemerintah untuk memantau warganya sendiri. Tuduhan itu tentu saja dibantah habis-habisan oleh media pemerintah, yang menyebutnya sebagai berita palsu belaka.
Faktanya, meski basis penggunanya bertambah, popularitas MAX masih jauh di bawah WhatsApp dan Telegram. Rakyat Rusia rupanya masih berat beralih. Ancaman pemblokiran ini bisa jadi pukulan telak, atau justru menjadi momentum bagi aplikasi lokal itu untuk merebut pasar. Kita lihat saja nanti.
Artikel Terkait
OAIL Konfirmasi Cahaya Misterius di Lampung Bukan Meteor, Melainkan Sampah Antariksa
Iran Buka Front Siber, Serangan Psikologis dan Spyware Gantikan Rudal
X Patuhi PP TUNAS, Batas Usia Pengguna di Indonesia Naik Jadi 16 Tahun
WhatsApp Permudah Buat Stiker Hampers Lebaran dengan Fitur AI