Bahaya Lontong Dibungkus Plastik: Risiko Kanker dan Gangguan Hormon

- Minggu, 02 November 2025 | 11:18 WIB
Bahaya Lontong Dibungkus Plastik: Risiko Kanker dan Gangguan Hormon

Bahaya Membungkus Lontong dengan Plastik: Risiko Kesehatan yang Mengintai

Apakah Anda sering menemukan lontong yang dibungkus plastik? Praktik ini ternyata menyimpan bahaya kesehatan serius yang perlu diwaspadai.

Mengapa Plastik Berbahaya untuk Membungkus Lontong?

Menurut Ahli Gizi Masyarakat dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Tan Shot Yen, plastik yang terkena panas selama proses pengukusan dapat melepaskan zat kimia berbahaya. Zat-zat ini mampu bermigrasi ke dalam makanan dan masuk ke tubuh manusia.

"Plastik yang terpapar panas, terutama jenis tertentu, dapat melepaskan zat kimia berbahaya yang bisa masuk ke dalam makanan dan tubuh, menyebabkan masalah kesehatan seperti gangguan hormonal, masalah reproduksi, dan bahkan risiko kanker," jelas dr. Tan.

Peringatan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

LIPI turut mengonfirmasi bahaya penggunaan plastik untuk kemasan makanan. Agus Haryono, Deputi Fasilitasi Riset dan Inovasi LIPI, menekankan bahwa kemasan plastik untuk makanan seharusnya memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk menjamin keamanannya pada suhu tertentu.

Zat aditif dalam plastik yang tidak tahan panas dapat terurai dengan mudah. Jika terkontaminasi ke dalam tubuh, zat-zat ini berpotensi menyebabkan berbagai penyakit berbahaya, termasuk kanker dan perubahan hormon.

Cara Aman Membungkus dan Menyimpan Lontong

dr. Tan merekomendasikan penggunaan daun pisang atau daun janur kelapa sebagai pembungkus lontong yang lebih aman. Selain menghindari risiko kontaminasi kimia, cara tradisional ini juga memberikan aroma khas yang meningkatkan cita rasa lontong dan ketupat.

Untuk menjaga kualitas lontong, simpanlah di kulkas sebelum dihidangkan kembali. "Menyimpan lontong sebaiknya sama seperti nasi matang. Masuk kulkas dan kukus ulang saat mau makan," tutup dr. Tan.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar