"Danantara atau pemerintah bisa suntik dana untuk modal BUMN Infra KA," kata Toto.
Optimalkan Kinerja KCIC dan Sumber Pendapatan Baru
Selain membentuk entitas baru, Toto menekankan pentingnya meningkatkan kinerja KCIC agar proyek Whoosh lebih cepat mencapai titik impas (break even point). Pendapatan dari sektor penumpang masih bisa dioptimalkan melalui peningkatan okupansi dan frekuensi perjalanan.
Potensi besar juga terdapat pada pendapatan non-penumpang. Pengembangan kawasan transit (Transit Oriented Development/TOD), pemanfaatan lahan komersial, dan kerjasama pengelolaan properti di sekitar stasiun-stasiun utama seperti Halim, Karawang, Padalarang, dan Tegalluar dapat menjadi sumber pemasukan baru.
"Revenue dari non-penumpang harus menjadi tumpuan utama. Utilisasi aset properti dan pengembangan kawasan sekitar jalur kereta cepat bisa menjadi sumber pemasukan baru," tutur Toto.
Recycling Aset melalui DMI dan INA
Setelah kinerja operasional Whoosh stabil, Toto menyarankan pemerintah mempertimbangkan opsi recycling aset. Skema ini dapat dilakukan melalui Dana Mitra Infrastruktur (DMI) atau Indonesia Investment Authority (INA).
"Setelah operasi Whoosh membaik, recycling aset lewat DMI atau INA bisa menjadi salah satu way out. Dengan cara ini, bisa dicari investor baru untuk PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), sehingga porsi konsorsium BUMN di KCIC berkurang dan risiko keuangan menurun," pungkas Toto.
Artikel Terkait
BAZNAS Tetapkan Zakat Fitrah Rp50.000 per Jiwa Menjelang Lebaran 2026
Tiket Bus ke Sumatera dan Jawa Naik Daun, Terminal Pulo Gebang Mulai Ramai Pemudik
BAZNAS Tetapkan Zakat Fitrah Rp50.000 per Jiwa untuk Ramadan Ini
Warga Serpong Pilih Gowes ke Palembang untuk Mudik Lebaran