NEW YORK - Tragedi 11 September 2001 meninggalkan trauma mendalam bagi Muslim Amerika, termasuk calon Wali Kota New York Zohran Mamdani. Politisi keturunan Uganda-India ini menjadi simbol perlawanan terhadap Islamofobia di Amerika Serikat pasca serangan 9/11.
Dalam pidato emosional di Bronx, Mamdani mengungkapkan dampak psikologis yang dialami keluarganya. Komunitas Muslim menghadapi stigma dan diskriminasi sistemik, dari kecurigaan publik hingga ancaman kekerasan langsung.
"Bibi saya berhenti menggunakan transportasi umum karena takut mengenakan jilbab," kenang Mamdani seperti dikutip Al Jazeera. Rumah keluarganya bahkan menjadi target vandalisme dengan coretan kata 'teroris' menggunakan cat.
Data Council on American-Islamic Relations (CAIR) menunjukkan peningkatan signifikan serangan terhadap Muslim Amerika setelah peristiwa World Trade Center. Bentuk diskriminasi mencakup ujaran kebencian, marginalisasi pekerjaan, hingga kekerasan fisik yang berlanjut hingga dua dekade kemudian.
Pengalaman traumatis tersebut menjadi motivasi Mamdani berkiprah di politik New York. Dengan fokus pada keadilan sosial dan toleransi, ia membangun koalisi lintas komunitas meski menghadapi serangan politik bermuatan Islamofobia.
Lonjakan dukungan publik terhadap Mamdani mencerminkan perubahan persepsi masyarakat Amerika terhadap isu diskriminasi agama. Kisahnya menjadi bukti ketahanan komunitas Muslim dalam menghadapi prasangka sistematis pasca tragedi 9/11.
Artikel Terkait
Beckham Putra Percaya Diri Hadapi Persija, Kemenangan atas PSIM Jadi Modal Berharga Persib
15 Juta Penduduk Usia Produktif Belum Punya Rekening Bank, LPS Genjot Literasi Keuangan
Setelah 20 Kali Gagal, Perempuan Pematangsiantar Akhirnya Raih Beasiswa LPDP ke King’s College London
JK Marah Besar Dituduh Nistakan Agama Kristen, 40 Ormas Laporkan Ade Armando Cs ke Bareskrim