Dakwah Tegas: Meneladani Sikap Nabi dalam Mengoreksi Penyimpangan

- Rabu, 05 Agustus 2026 | 06:20 WIB
Dakwah Tegas: Meneladani Sikap Nabi dalam Mengoreksi Penyimpangan

Dalam berdakwah, umat Islam sering kali hanya menonjolkan sifat kasih sayang Allah dan kelembutan Nabi Muhammad SAW, tanpa diimbangi ketegasan dalam menegakkan syariat. Padahal, Allah juga memiliki sifat Al-Jabbar dan Al-Qohhar, Yang Maha Memaksa dan Maha Perkasa, sebagaimana Rasulullah tidak hanya menyampaikan kabar gembira, tetapi juga memberi peringatan keras.

Sejarah mencatat, dakwah Nabi tidak selalu berjalan mulus. Beliau diusir oleh kaum kafir Mekkah dan menghadapi perlawanan di berbagai tempat. Perlawanan itu muncul justru karena beliau tegas mengoreksi amalan-amalan masyarakat Arab yang menyimpang dari ajaran tauhid. Ketegasan ini merupakan bagian dari risalah yang dibawanya, bukan sekadar sikap keras tanpa dasar.

Persoalan muncul ketika banyak umat memahami agama secara parsial. Mereka hanya mengambil sebagian ajaran, lalu terjebak pada pemahaman yang keliru, seperti faham Murji'ah yang mengatakan, "Jangan sok menghakimi orang lain, yang berhak menghakimi hanyalah Allah." Kalimat ini sekilas tampak benar, tetapi sebenarnya menihilkan peran dakwah para rasul dan pewarisnya yang justru bertugas mengoreksi penyimpangan.

Mereka yang mengaku Ahlussunnah, tetapi praktiknya mengikuti faham Murji'ah, telah mereduksi esensi dakwah. Padahal, dakwah tidak hanya tentang memberi kabar gembira, tetapi juga menegakkan kebenaran dengan tegas, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags