Perang dengan Iran Menguras Rudal Presisi Jarak Jauh AS

- Rabu, 05 Agustus 2026 | 06:40 WIB
Perang dengan Iran Menguras Rudal Presisi Jarak Jauh AS

Angkatan Darat Amerika Serikat telah menghabiskan hampir seluruh persediaan rudal jarak jauh presisi tingginya selama lima bulan konflik dengan Iran. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan militer mengenai kesiapan negara menghadapi potensi konflik di masa depan, menurut tiga sumber yang mengetahui data tersebut.

Rudal yang dimaksud terutama adalah senjata permukaan-ke-permukaan seperti Sistem Rudal Taktis Angkatan Darat (ATACMS) dan Rudal Serangan Presisi (PrSM). Dua sumber menyebutkan bahwa AS telah menggunakan "hampir semua" amunisi jenis ini, dan sejauh mana penipisan ini belum pernah dilaporkan sebelumnya.

Setiap rudal ini berharga lebih dari satu juta dolar dan menjadi andalan militer untuk melancarkan serangan akurat dari jarak aman. ATACMS yang dipasok AS juga memainkan peran kunci dalam perang di Ukraina, memungkinkan pasukan Ukraina menyerang target di dalam Rusia. PrSM adalah generasi terbaru yang dirancang menggantikan ATACMS dengan jangkauan lebih pendek namun lebih canggih.

Penurunan drastis stok rudal presisi jarak jauh ini berarti Presiden AS Donald Trump mungkin harus lebih mengandalkan misi pengeboman berawak yang lebih berisiko jika ia kembali melancarkan serangan besar terhadap Iran. Sumber-sumber menolak menyebutkan jumlah pasti amunisi yang tersisa.

Trump memulai perang melawan Iran bersama Israel pada Februari 2026 dengan perkiraan konflik akan berlangsung singkat. Namun, seiring meluasnya perang, tiga sumber mengungkapkan kekhawatiran bahwa menipisnya pasokan rudal dapat membatasi kemampuan AS untuk mencegah musuh, termasuk Rusia dan China.

Seorang sumber keempat mengatakan bahwa meskipun penggunaan senjata presisi tinggi, AS dapat melakukan pengisian ulang. Komando Pusat yang mengawasi pasukan AS di Timur Tengah disebut mampu mengisi ulang amunisi dari persediaan militer di seluruh dunia.

Kekhawatiran di Tubuh Pemerintah

Angka pasokan ini telah beredar di lingkungan federal selama sepekan terakhir, di tengah diskusi internal pemerintahan Trump tentang berapa lama AS dapat terus menyerang Iran tanpa mengurangi persediaan hingga batas yang membahayakan kemampuan merespons krisis di tempat lain. Salah satu sumber mengatakan penurunan stok ATACMS dan PrSM mencerminkan keputusan pemerintah untuk menghindari cara yang lebih berisiko, seperti menggunakan pesawat berawak untuk menjatuhkan bom.

Para analis menilai senjata-senjata ini sangat berharga dalam perang melawan musuh dengan pertahanan udara kuat, seperti China. Menurut laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada Maret, rudal-rudal ini telah digunakan untuk menyerang target di Iran. Laporan yang sama menyebutkan stok PrSM awalnya rendah karena masih baru, tetapi militer telah memesan jumlah besar untuk 2027. Angkatan Darat juga mengonfirmasi ATACMS sedang dihapus secara bertahap dan produksinya beralih ke PrSM.

Para pemimpin militer telah memperingatkan presiden selama berminggu-minggu bahwa persediaan senjata pertahanan, termasuk pencegat Patriot yang efektif melawan rudal balistik, semakin menipis. Pekan lalu, sejumlah media melaporkan Trump memutuskan tidak melancarkan serangan besar lagi ke Iran sebagian karena peringatan penasihat militernya. Namun, seorang pejabat AS membantah dan mengatakan keputusan itu dipicu tekanan negara-negara Teluk.

Stok Senjata Pertahanan Juga Menipis

Laporan CSIS pekan lalu memperkirakan sekitar 65 persen pencegat Patriot telah digunakan antara Februari dan Juli, sementara stok pencegat THAAD turun setidaknya 38 persen dari awal perang. Patriot dan THAAD adalah sistem pertahanan yang mendeteksi dan menghancurkan rudal datang. Reuters belum melihat angka pasti, tetapi dua sumber mengatakan angka itu sesuai dengan data internal AS.

AS juga telah menghabiskan hampir setengah dari persediaan global rudal jelajah Tomahawk, yang umumnya diluncurkan dari kapal, sejak awal perang. Tomahawk adalah senjata andalan Angkatan Laut untuk menyerang target yang dijaga ketat tanpa mempertaruhkan pilot. Raytheon, produsen Tomahawk, telah mencapai kesepakatan sementara dengan Pentagon untuk meningkatkan produksi, seiring upaya Washington membangun kembali persediaan.

Gedung Putih, saat dimintai komentar, mengeluarkan pernyataan Trump yang menyatakan AS memiliki "jauh lebih banyak amunisi daripada siapa pun di dunia" dan "jauh lebih banyak daripada yang kita butuhkan". Trump juga menegaskan perusahaan pertahanan memproduksi amunisi pada tingkat rekor. Namun, para analis setuju bahwa meski produksi meningkat, persediaan mungkin tidak cukup untuk perang berkepanjangan. Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, menyatakan militer AS adalah yang terkuat di dunia dan memiliki semua yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags