Amerika Serikat mencabut penangguhan sanksi yang sebelumnya mengizinkan Iran menjual minyak di pasar terbuka. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap eskalasi terbaru di dekat Selat Hormuz, di mana tiga kapal tanker dilaporkan terkena serangan rudal dalam beberapa hari terakhir.
Seorang pejabat AS mengonfirmasi pencabutan tersebut. Ia menegaskan bahwa Iran hanya akan mendapatkan manfaat dari nota kesepahaman 14 poin yang ditandatangani pada Juni lalu jika memenuhi sederet komitmennya. Nota kesepahaman itu sendiri merupakan hasil negosiasi yang mencakup konsesi utama AS: pencabutan sanksi terhadap minyak Iran, yang menyumbang lebih dari setengah pendapatan ekspor negara tersebut.
Sebelum dicabut, pengecualian sanksi memungkinkan Iran memproduksi, mengirim, dan menjual minyak mentah selama 60 hari hingga 21 Agustus. Kini, dengan dicabutnya penangguhan, Iran kembali menghadapi hambatan dalam perdagangan minyaknya.
Berdasarkan nota kesepahaman, AS juga berjanji akan mencabut seluruh sanksi terhadap Iran dan mencairkan asetnya yang dibekukan. Namun, syaratnya jelas: Iran harus menindaklanjuti komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir dan membuang pasokan uranium yang diperkaya. Kesepakatan nuklir antara kedua negara masih dalam tahap negosiasi dan ditargetkan rampung dalam dua bulan.
Meski AS dan Iran telah menyepakati gencatan senjata selama 60 hari pada bulan lalu, bentrokan masih kerap terjadi di Selat Hormuz. Perang yang melumpuhkan lalu lintas di jalur maritim vital itu telah berlangsung sejak akhir Februari.
Artikel Terkait
Kapal Tanker Pertamina Pride Berhasil Lolos dari Blokade Selat Hormuz
Megawati Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, Kenang Pertemuan di Teheran
AS Kembali Serang Iran di Selat Hormuz, Sejumlah Warga Terluka
AS Lancarkan Serangan di Selat Hormuz, Iran Tuding Pelanggaran Gencatan Senjata