Penulis Tere Liye melontarkan kritik tajam terhadap kelompok LGBT dan pendukungnya, khususnya di kalangan mahasiswa, yang kerap menggunakan rujukan American Psychological Association (APA) untuk membenarkan orientasi seksual non-heteroseksual. Dalam tulisannya yang beredar luas, ia menilai argumen tersebut lemah karena pendapat manusia bisa berubah-ubah, berbeda dengan keyakinan agama yang dianggapnya absolut.
Tere Liye menyoroti inkonsistensi APA yang pada 1970-an masih mengklasifikasikan homoseksualitas sebagai gangguan jiwa, lalu merevisinya. Menurutnya, sikap plintat-plintut itu membuktikan bahwa sains bukanlah landasan tetap. "Besok lusa, mereka juga bisa berubah lagi pendapatnya. Itulah khas pendapat manusia. Berubah-ubah," tulisnya.
Penulis novel bestseller itu menegaskan bahwa ia memilih berpegang pada kitab suci yang menyatakan LGBT sebagai penyimpangan. Ia juga mengecam upaya sebagian kalangan yang menggunakan riset ilmiah untuk membenarkan perilaku seperti seks bebas, mabuk, narkoba, atau ganja. "Mau seilmiah apapun, manusia itu bahkan tidak bisa bikin lalat," sindirnya.
Ia mengkritik mahasiswa dan netizen yang gencar mempropagandakan LGBT di media sosial. Menurutnya, jika seseorang memang memiliki orientasi homoseksual, sebaiknya tidak perlu diumbar atau dirayakan secara terbuka. "Karena ini tuh Indonesia. Punya adat istiadat, nilai-nilai bermasyarakat," tegasnya.
Tere Liye juga menyinggung kemunafikan kelompok LGBT yang menuntut hak istimewa untuk mengekspresikan diri secara terbuka, sementara masyarakat pada umumnya tidak bisa seenaknya mempromosikan seks bebas. Ia menutup tulisannya dengan nada sinis: "Sok gaya open minded, duuh uang kuliah, kostan, gojek, pulsa masih merepotkan orang tua. Sok gaya hidup liberal, mencari makna dan hakikat hidup saja masih nggak jelas. Masih ingusan."
Artikel Terkait
Forum Ponpes dan DKM Bogor Raya Desak MUI Perkuat Regulasi Pencegahan LGBT
MUI Minta Pemerintah Tak Tiru Negara Barat yang Legalkan LGBT
Tere Liye: Saya Tak Akan Dukung Siapa Pun dalam Kasus Korupsi
Pancasila di Persimpangan: Menimbang Sikap Negara terhadap LGBT