Rem Blong Bukan Sekadar Teknis, Pakar Soroti Budaya Pemeliharaan Armada

- Rabu, 01 Juli 2026 | 05:36 WIB
Rem Blong Bukan Sekadar Teknis, Pakar Soroti Budaya Pemeliharaan Armada

Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan truk kembali memakan korban. Peristiwa terakhir terjadi di Bekasi Timur, Senin pagi, saat sebuah truk menabrak mobil dan motor yang tengah menunggu lampu merah di Simpang Unisma, Jalan Cut Meutia. Pengemudi mengaku rem truk tidak berfungsi sejak 50 hingga 100 meter sebelum lokasi kejadian.

Lokasi kejadian memiliki kemiripan dengan insiden di Gerbang Tol Ciawi: sama-sama berada di ujung jalan menurun yang menjadi titik kumpul kendaraan. Pola ini, menurut pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu, bukan sekadar nasib buruk, melainkan cerminan lemahnya sistem keselamatan transportasi nasional.

"Secara teknis, rem blong hampir tidak pernah terjadi secara tiba-tiba. Rem blong lebih sering merupakan indikator buruknya budaya pemeliharaan armada daripada penyebab utama itu sendiri," ujar Yannes kepada kumparan, Selasa (30/6/2026).

Ia menambahkan, pengawasan sepanjang siklus hidup kendaraan lemah, sementara tekanan bisnis membuat pengusaha angkutan mengabaikan investasi keselamatan. "Dalam kondisi margin usaha yang ketat, biaya pemeliharaan sering dipandang sebagai beban perusahaan, bukan investasi keselamatan truk sebagai aset. Ini sebuah bentuk egoisme dan ketidakpedulian pengusaha angkutan," tegasnya.

Selain itu, minimnya kompetensi pengemudi truk juga menjadi masalah. Banyak sopir tidak dibekali kemampuan mengenali gejala awal kerusakan rem atau teknik pengereman darurat. Yannes juga menyoroti pengawasan yang lebih bersifat administratif ketimbang berbasis kondisi kendaraan. "Uji KIR memang diwajibkan, tapi inspeksi periodik belum mampu menjamin bahwa kendaraan yang setiap hari beroperasi tetap berada dalam kondisi laik jalan," katanya.

Menurut Yannes, setiap insiden hanya direspons secara reaktif tanpa menyentuh akar masalah. "Akibatnya, Indonesia mengalami siklus kecelakaan yang berulang. Kendaraan tidak laik jalan tetap beroperasi, pengawasan kurang efektif, kecelakaan besar terjadi, investigasi dilakukan, korban mendapat santunan, lalu aktivitas kembali berjalan tanpa perubahan mendasar," tandasnya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags