Kaca spion kerap dianggap hanya sebagai alat bantu untuk melihat kondisi di belakang kendaraan. Padahal, komponen ini bisa menjadi penyelamat saat menghadapi situasi darurat di jalan. Pelajaran berharga datang dari kecelakaan truk di Bekasi Timur yang menabrak kerumunan kendaraan di persimpangan, menewaskan satu orang dan melukai beberapa lainnya.
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengamati bahwa lokasi kejadian di perempatan dekat Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi memiliki kemiripan dengan area Gerbang Tol Ciawi, Bogor. Keduanya merupakan segmen jalan menurun panjang yang langsung berujung pada titik konflik seperti gerbang tol atau persimpangan berlampu lalu lintas. Menurut Yannes, area semacam itu harus diperlakukan sebagai zona berisiko tinggi.
Dari sini, pengemudi dituntut mampu membaca situasi sekitar tidak hanya saat berkendara, tetapi juga ketika berhenti. Selain itu, pemahaman terhadap kelengkapan dan fitur kendaraan, termasuk kaca spion, menjadi krusial. Yannes menyarankan pengguna jalan yang berada di zona berisiko tinggi untuk selalu waspada dengan memperhatikan kaca spion saat berhenti di lampu merah, terutama jika berada di turunan panjang atau antre di gerbang tol dan ada truk atau bus besar yang datang dari belakang.
Ia menambahkan, pastikan ada sisa ruang untuk manuver darurat bila ancaman datang dari arah belakang. Dengan begitu, peluang menyelamatkan diri lebih terbuka lebar. Meski demikian, ia mengakui bahwa kewaspadaan saja tidak bisa menghilangkan ancaman sepenuhnya. "Intinya, selama masih terdapat kendaraan angkutan berat yang dioperasikan tanpa pemeliharaan dan pengawasan keselamatan yang memadai, kewaspadaan pengguna jalan menjadi lapisan perlindungan terakhir untuk meminimalkan risiko menjadi korban," tandas Yannes.
Certified Safety Ride Driving Instructor, Gerry Nasution, sebelumnya juga mengingatkan bahwa peran kaca spion sangat vital untuk memantau situasi di sekitar kendaraan dalam kondisi apa pun. Ia menyayangkan budaya pengendara di Indonesia yang jarang mengecek kaca spion, apalagi saat lalu lintas pelan atau macet. "Biasanya akan 90 persen lebih berfokus ke depan," ujarnya.
Menurut Gerry, mayoritas pengendara baru memanfaatkan kaca spion saat hendak berpindah lajur pada kecepatan tinggi, memutar balik, berbelok, atau parkir mundur. Situasi lalu lintas padat atau macet sering dianggap aman sehingga kewaspadaan menurun. Padahal, kecelakaan tabrak belakang saat lalu lintas ramai sudah cukup sering terjadi, seperti kasus bus di Jawa Timur. "Sekilas cukup banyak pengendara di depannya tidak aware dengan situasi yang terjadi di belakangnya," jelas Gerry.
Dengan rutin membaca situasi sekitar termasuk bagian belakang, pengendara dapat melakukan mitigasi cepat untuk menghindar atau mengurangi risiko dampak kecelakaan. Misalnya, dalam kasus bus rem blong, pengendara bisa menepi agar kendaraan yang mengalami situasi darurat bisa diberi jalan. "Tidak cuma bus dalam konteks ini, tetapi apa pun kendaraan atau objek lain yang bisa membahayakan keselamatan kita," pungkasnya.
Artikel Terkait
Rem Blong Bukan Sekadar Teknis, Pakar Soroti Budaya Pemeliharaan Armada