Indeks saham Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan Selasa (30/6), dengan S&P 500 dan Nasdaq mencatat kenaikan kuartalan terbesar sejak 2020. Optimisme investor terhadap pertumbuhan ekonomi dan laba perusahaan mendorong penguatan, meskipun konflik di Timur Tengah masih berlangsung.
Dow Jones Industrial Average juga mencatat lonjakan kuartalan terbesar sejak 2022. Pada perdagangan harian, Dow Jones mencetak rekor penutupan tertinggi untuk hari kedua berturut-turut. Sektor teknologi memimpin penguatan di antara sektor-sektor dalam S&P 500, sementara indeks saham semikonduktor naik 3,9 persen.
Optimisme pasar didorong oleh sinyal kemajuan dalam upaya menghentikan perang Iran secara permanen, meskipun ketegangan militer masih berlanjut. Pada 17 Juni, Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama empat bulan. Namun, saling serang yang kembali terjadi pada akhir pekan menguji kesepakatan tersebut. Seorang pejabat Qatar pada Selasa mengatakan utusan utama AS yang tiba di Doha tidak akan menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Iran.
“Kami telah melalui paruh pertama tahun ini dengan sangat baik, bahkan jauh lebih baik dari yang diperkirakan banyak orang,” kata Oliver Pursche, Senior Vice President dan penasihat di Wealthspire Advisors, Westport, Connecticut. “Terlepas dari berbagai gejolak geopolitik yang terjadi, perekonomian AS tetap menunjukkan kinerja yang baik dan laba perusahaan juga masih kuat.”
Setelah musim laporan keuangan kuartal I yang kuat bagi perusahaan-perusahaan di indeks S&P 500, investor kini menantikan laporan kinerja kuartal II yang akan dirilis dalam beberapa pekan mendatang. Lonjakan tajam harga minyak pada awal perang sempat memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan kenaikan suku bunga. Berdasarkan data LSEG, pelaku pasar kini memperkirakan setidaknya akan ada satu kali kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve hingga akhir 2026.
Pada penutupan perdagangan, Dow Jones naik 136,46 poin atau 0,26 persen menjadi 52.319,20. S&P 500 menguat 58,93 poin atau 0,79 persen ke level 7.499,36, sementara Nasdaq melonjak 393,58 poin atau 1,52 persen menjadi 26.213,72.
Meski demikian, pelemahan saham-saham teknologi berkapitalisasi besar dalam beberapa pekan terakhir sempat membebani pasar. S&P 500 dan Nasdaq juga tercatat membukukan penurunan sepanjang Juni. Investor sebelumnya mengkhawatirkan valuasi saham teknologi yang dinilai terlalu tinggi serta belanja besar perusahaan teknologi untuk pengembangan kecerdasan buatan.
Secara kuartalan, Dow Jones menguat sekitar 13 persen, S&P 500 naik 14,9 persen, sedangkan Nasdaq melesat 21,4 persen. Strategi investasi dari Bank of America menyebut sektor-sektor siklikal dan berbasis nilai, seperti energi dan keuangan, berpotensi menjadi pilihan yang lebih menarik pada paruh kedua tahun ini.
Setelah penutupan pasar, saham Nike turun sekitar 2 persen setelah perusahaan merilis laporan keuangan kuartalannya. Di Bursa Efek New York, jumlah saham yang menguat lebih banyak dibandingkan yang melemah dengan rasio 1,06 banding 1. Sebanyak 349 saham mencatatkan level tertinggi baru, sedangkan 154 saham menyentuh level terendah baru. Di Nasdaq, sebanyak 2.651 saham menguat dan 2.318 saham melemah, atau dengan rasio 1,14 banding 1. Indeks S&P 500 tidak mencatatkan level tertinggi maupun terendah baru dalam 52 pekan, begitu pula Nasdaq Composite. Volume transaksi di bursa AS mencapai 19,97 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 23,40 miliar saham per sesi dalam 20 hari perdagangan terakhir.
Artikel Terkait
Wall Street Menguat, Dow Cetak Rekor Penutupan Tertinggi