Tumpukan Sampah Liar di Babelan Menggunung, Warga Minta Solusi

- Rabu, 01 Juli 2026 | 06:12 WIB
Tumpukan Sampah Liar di Babelan Menggunung, Warga Minta Solusi

Sejumlah titik di Jalan Pulo Timaha, Babelan, Kabupaten Bekasi, dipenuhi tumpukan sampah liar. Pantauan pada Selasa (30/6) menunjukkan dua lokasi pembuangan ilegal di kawasan yang sama, mengganggu aktivitas warga dan mencemari lingkungan.

Lokasi pertama berada di tepi jalan yang berbatasan langsung dengan kali. Tumpukan sampah tidak hanya memenuhi bahu jalan, tetapi juga menutupi aliran sungai sehingga air tampak tidak dapat mengalir lancar. Berbagai jenis sampah bercampur tanpa pemilahan, mulai dari sisa dapur, plastik, popok bekas, bantal, kain, rambut, hingga bekas alat kontrasepsi. Di antara tumpukan itu, terlihat satu bungkus besar kerupuk yang masih tersusun rapi dalam kemasan kecil, diduga dibuang karena sudah tidak layak konsumsi.

Di lokasi kedua, sampah menumpuk di sisi jalan yang berbatasan langsung dengan hamparan sawah. Pemandangan persawahan yang seharusnya menjadi ruang terbuka hijau justru kontras dengan gunungan sampah. Sebagian sampah bahkan merambat ke badan jalan hingga memakan sekitar seperempat lebar jalan, memaksa pengendara menghindar ke sisi lain saat melintas. Di beberapa titik, terlihat bekas pembakaran sampah yang meninggalkan abu, meski pelaku pembakaran belum diketahui.

Sutarni (63), pemilik toko bunga di sekitar lokasi, mengatakan tumpukan sampah liar mulai muncul sekitar tiga tahun terakhir. Ketika ia mulai berjualan empat tahun lalu, lokasi tersebut masih bersih. "Setahu saya ya sekitar tiga tahun-dua tahunan lah. Yang sejalan Kedaung ini ya, yang sebelah kanan dari saya berdiri di sini. Saya berdiri di sini, toko bunga ini sekitar 4 tahun lebih lah gitu. Tapi di sana waktu itu belum ada sampah, tapi setelah itu sudah ada ya sekitar 3 tahunan lah," ujarnya.

Ia menduga kebiasaan membuang sampah sembarangan dipengaruhi oleh tidak semua warga memiliki layanan pengangkutan sampah. Warga yang tinggal di perumahan umumnya membayar iuran kebersihan setiap bulan, sementara sebagian lainnya kemungkinan tidak mendapatkan layanan serupa atau terkendala biaya. Sutarni menyebut pelaku pembuangan berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pedagang hingga warga sekitar yang enggan membayar iuran. "Setahu saya sih pedagang, sama ya ada perumahan yang mungkin bayar malas gitu, jadi mungkin ada juga yang dibakar di rumah, ada juga yang dipungut dari RT begitu," jelasnya.

Keberadaan tumpukan sampah sudah mengganggu aktivitas warga. Sutarni mengaku sulit menegur pelaku karena mereka biasanya membuang sampah saat jalan sepi. Ia berharap Pemerintah Kabupaten Bekasi menyediakan tempat penampungan sementara yang memadai agar sampah bisa langsung diangkut truk sebelum menumpuk. "Sarannya, ya mohon perhatikan untuk masyarakat kecil, dikasih tempat untuk seperti bak sampah yang bisa langsung penuh diangkut pakai truk, atau yang bak mobil itu lho, truk itu yang bisa langsung diangkat, penuh angkat, gitu. Jadi tidak semebar ke mana-mana dan membau busuk ke mana-mana, itu saja," ujarnya.

DLH Sebut Sampah Sering Diangkut

Menanggapi hal itu, Humas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi, Dedi Kurniawan, mengatakan pihaknya berencana mengangkut sampah tersebut pada Rabu (1/7). "Besok, rencananya mau diangkat. Rencananya kita mau turun alat berat, tapi lihat situasi kondisi jalan kecil banget, potensi macet tinggi. Pakai manual besok akan kami sikapi," katanya saat dikonfirmasi, Selasa (30/6).

Dedi menyebut tumpukan sampah di lokasi tersebut bukan kali pertama terjadi. Petugas DLH sudah beberapa kali melakukan pengangkutan, namun sampah kembali menumpuk. "Iya sudah berulang kali kami angkut bukan kali pertama ini saja. Awareness (kesadaran) warganya masih rendah, padahal kami siap melayani," ujarnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags